Oleh: Ustadz Drs. H. Mismaruddin Daulay. MM
Masjid Al-Iman, Kota Bekasi
ALIMANNEWS.COM – Dalam sejarah Islam dikisahkan tentang seorang pemimpin besar, Murad II, ayah dari Mehmed II (Muhammad Al-Fatih). Ia dikenal sebagai sultan yang alim dan sangat peduli kepada rakyatnya.
Sebagaimana teladan para pemimpin saleh seperti Umar bin Khattab, Sultan Murad II kerap menyamar dengan pakaian sederhana, ditemani dua penasihatnya, untuk melihat langsung kondisi rakyat. Pada suatu malam, ia menyaksikan seseorang yang dikenal masyarakat sebagai peminum keras dan pengunjung tempat maksiat, ditemukan meninggal dunia.
Masyarakat memandangnya sebagai orang fasik. Namun ketika jenazah itu diantarkan ke rumahnya, sang istri menjelaskan fakta yang sesungguhnya. Ternyata suaminya membeli minuman keras bukan untuk diminum, melainkan untuk dibuang agar para pemuda tidak lagi mengonsumsinya. Ia juga mendatangi tempat maksiat bukan untuk berbuat dosa, tetapi untuk membayar para wanita agar malam itu tidak melayani siapa pun.
Gajinya dibagi tiga: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk “membeli” minuman keras agar dimusnahkan, dan sepertiga untuk menutup praktik kemaksiatan sementara waktu. Semua itu dilakukan diam-diam, bahkan istrinya pun baru mengetahui sepenuhnya setelah ia wafat.
Mendengar kisah itu, Sultan Murad II terharu. Ia menegaskan bahwa jenazah tersebut akan dishalatkan dan dihormati. Para ulama pun turut menyalatkannya. Yang sebelumnya disangka pendosa, ternyata seorang pejuang sunyi yang berusaha menyelamatkan generasi muda.
Dari kisah ini, ada pelajaran besar bagi kita. Pertama, pentingnya berbaik sangka (husnuzan). Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an agar tidak mudah menerima berita tanpa tabayun. Apa yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan kenyataan.
Kedua, orang yang berjuang di jalan Allah, meski dicela manusia, tidak akan disia-siakan oleh Allah. Ketulusan dan pengorbanan yang tersembunyi justru memiliki nilai tinggi di sisi-Nya.
Ketiga, teladan seorang pemimpin. Sultan tidak hanya memerintah dari istana, tetapi turun langsung melihat kondisi rakyat. Kepedulian seperti inilah yang melahirkan keadilan dan kepercayaan.
Di zaman sekarang, ketika informasi begitu cepat tersebar dan prasangka mudah tumbuh, kisah ini menjadi pengingat agar kita tidak mudah menghakimi. Jangan sampai persangkaan buruk merusak persaudaraan dan membuat kita kehilangan kepercayaan kepada sesama.
Semoga Allah menjaga hati kita dari su’uzan, menanamkan keikhlasan dalam amal, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu berbaik sangka serta peduli kepada sesama.