Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

AS–Iran Gagal Berdamai, Seruan Perdamaian Menguat dari PBNU dan Vatikan

Didik Triono
71
×

AS–Iran Gagal Berdamai, Seruan Perdamaian Menguat dari PBNU dan Vatikan

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Paus Leo XIV. (Foto: dsgn/diks/anews)

ALIMANNEWS.COM, JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyayangkan kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Ia menegaskan pentingnya melanjutkan jalur diplomasi demi mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan berbahaya bagi dunia.

Dalam pernyataannya pada Senin (13/4/2026), Gus Yahya mengajak seluruh elemen bangsa serta umat lintas agama untuk bersatu memperjuangkan perdamaian global. Menurutnya, keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan umat manusia harus menjadi prioritas bersama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

“Seluruh umat beragama perlu menggalang solidaritas untuk memperjuangkan keselamatan dan kesejahteraan umat manusia,” tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap Paus Leo XIV yang secara konsisten menyerukan dialog dan koeksistensi damai antarbangsa. Gus Yahya menilai seruan tersebut menjadi contoh penting dalam membangun pendekatan damai berbasis kemanusiaan.

Lebih lanjut, Gus Yahya mendorong agar Pakistan tetap memainkan peran strategis sebagai mediator dalam konflik tersebut. Ia berharap Islamabad dapat terus memfasilitasi perundingan dan membawa pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja dialog.

Tak hanya itu, ia juga meminta Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto, untuk mengambil peran aktif di tingkat internasional. Menurutnya, Indonesia perlu menggalang dukungan global guna menghentikan kekerasan serta mendorong solusi damai yang komprehensif.

“Perlu ada konsolidasi internasional untuk menghentikan kekerasan, memperkuat jalur damai, serta memberikan dukungan terhadap korban, khususnya warga sipil, termasuk penanganan dampak ekonomi akibat konflik,” ujarnya.

Gus Yahya juga mengingatkan bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat langsung, tetapi meluas hingga ke berbagai negara. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membatasi eskalasi konflik agar tidak semakin kompleks dan sulit diselesaikan.

“Semakin luas pihak yang terlibat, semakin sulit konflik diselesaikan. Maka penghentian kekerasan harus menjadi kepentingan bersama yang mendesak,” katanya.

Sebelumnya, dalam upaya memperkuat ketahanan menghadapi gejolak global, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menginisiasi gerakan penguatan ketahanan sosial di tingkat akar rumput. Langkah ini ditandai dengan pertemuan Gus Yahya bersama Ignatius Suharyo di Jakarta pada Jumat (10/4/2026).

Ketua PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut membahas dampak ketidakpastian geopolitik global terhadap Indonesia, sekaligus merumuskan langkah kolaboratif lintas agama.

Menurutnya, kerja sama konkret difokuskan pada penguatan sosial-ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput, agar masyarakat memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk dampak konflik global.

“Kerja sama lintas komunitas diharapkan mampu memperkuat daya tahan masyarakat dalam menghadapi tantangan, baik bencana maupun dinamika global,” pungkasnya. (diks/anews)

 
 

 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *