Islam Insight oleh Ustadz Gende Muda Hutusuhut, M.Pd.I
ALIMANNEWS.COM – Manusia sering merasa bahagia dengan rumah yang megah, harta yang melimpah, mobil yang mewah, bahkan hewan peliharaan yang dirawat dengan penuh kasih. Namun sesungguhnya, semua itu hanyalah titipan yang suatu saat pasti akan berpisah dengan pemiliknya.
Seseorang boleh saja mencintai apa pun di dunia ini, tetapi cepat atau lambat ia akan berpisah dengannya. Entah kita yang meninggalkannya, atau ia yang lebih dulu meninggalkan kita.
Dalam sebuah kisah diceritakan tentang seorang ulama bernama Hatim Al-Asham yang belajar kepada gurunya selama bertahun-tahun. Suatu ketika gurunya bertanya, “Wahai Hatim, sudah berapa lama engkau belajar denganku?”
Hatim Al-Asham menjawab dengan penuh hormat, “Sudah sekitar tiga puluh tahun, wahai guru.”
Gurunya kembali bertanya, “Dari sekian lama engkau belajar, pelajaran apa yang paling berharga yang engkau dapatkan?”
Hatim Al-Asham menjawab, “Aku mengambil satu pelajaran yang sangat penting. Aku melihat manusia selalu ingin bersama dengan apa yang mereka cintai. Mereka merindukannya dan menjaganya. Namun ketika seseorang meninggal dunia, semua yang ia cintai itu hanya mampu menangis dan mengantarkannya sampai kubur, setelah itu mereka pulang dan tidak ikut bersamanya.”
Dari pengamatan itu, Hatim Al-Asham menyimpulkan bahwa semua yang dicintai di dunia tidak akan ikut menemani manusia di alam kubur. Rumah mewah, mobil indah, harta yang berlimpah—semuanya akan ditinggalkan.
Karena itu, Hatim Al-Asham berkata kepada gurunya, “Aku menjadikan amal saleh sebagai sesuatu yang paling aku cintai. Sebab ketika aku meninggal dunia, amal saleh itulah yang akan menemaniku di alam kubur.”
Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak ada kesibukan yang lebih penting bagi seorang mukmin selain mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mempersiapkan bekal menuju kematian. Kesibukan dunia boleh saja dijalani, tetapi jangan sampai melalaikan ibadah.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Hiduplah sesukamu, tetapi ingat engkau pasti akan mati.”
Setiap manusia akan mengalami saat di mana napas terakhir terhembus. Ketika itu terjadi, bukan pakaian yang pertama kali dilepaskan dari tubuh kita, melainkan cincin, perhiasan, dan segala harta yang selama ini kita banggakan. Semuanya akan diamankan oleh orang lain, sementara kita hanya dibungkus kain kafan.
Saat itu, tidak ada lagi harta yang berguna. Tidak ada lagi jabatan yang dapat menolong. Yang tersisa hanyalah amal saleh dan doa dari orang-orang yang masih hidup.
Doa anak-anak yang saleh, doa sahabat-sahabat yang beriman, serta amal baik yang pernah kita lakukan—itulah yang akan menjadi penerang di alam kubur.
Karena itu, selama harta masih berada dalam genggaman kita, salurkanlah di jalan Allah. Gunakan untuk kebaikan, sedekah, dan membantu sesama.
Di bulan Ramadhan ini, sering kali yang paling awal bangun untuk menyiapkan sahur adalah para ibu. Dengan penuh kasih mereka menyiapkan kebutuhan keluarga agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan keberkahan kepada para ibu, serta menjadikan pengorbanan mereka sebagai amal kebaikan.
Setiap orang tua juga memiliki harapan yang sama: agar anak-anaknya menjadi generasi yang saleh. Anak yang mendoakan orang tuanya ketika mereka telah tiada.
Sebab ketika seseorang meninggal dunia, yang paling berharga bukan lagi harta yang ia tinggalkan, melainkan doa dari anak-anak yang saleh dan amal kebaikan yang pernah ia lakukan semasa hidup.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan setelah kematian. Aamiin.