Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Islam Insight

Era Digital Ancam Karakter Anak, Ustadz Tri Nurhakim Serukan ‘Puasa Digital’

63
×

Era Digital Ancam Karakter Anak, Ustadz Tri Nurhakim Serukan ‘Puasa Digital’

Sebarkan artikel ini
Ustadz Nurhakim (No. 2 dari Kanan), diapit Penasehat DKIM Al-Iman Ustadz Wilda Masir (Kiri), Ketua DKM Ustadz Beni Suhara (No. 2 dari Kiri), Imam Masjid Al-Iman Ustadz Mudlori (kanan) (Foto: Dik/ANC)

Islam Insight
Oleh: Ustadz Tri Nurhakim, M. Pd.

ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHTPemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi salah satu sarana penting dalam memperluas dakwah Islam di era modern. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi yang tidak terkendali juga dapat menjadi tantangan besar bagi kehidupan spiritual umat Islam.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Tri Nurhakim  dalam tausiyahnya di hadapan jamaah Masjid Al-Iman, Kota Baru, Kota Bekasi.

Ustadz Tri Nurhakim, M. Pd. (Foto: Dik/ANC)

Dalam ceramahnya, ia mengapresiasi perkembangan dakwah digital yang dilakukan oleh pengurus Masjid Al-Iman. Menurutnya, masjid tersebut telah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Saya sering datang ke masjid ini beberapa tahun lalu. Sekarang perkembangannya luar biasa. Media sosialnya aktif, kegiatan masjid terdokumentasi dengan baik, bahkan tayangan ceramahnya bisa ditonton di YouTube,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan media digital seperti platform Aliman News membuat dakwah tidak lagi terbatas pada jamaah yang hadir secara langsung di masjid.

Dakwahnya tidak hanya untuk warga sekitar atau beberapa ratus meter dari masjid, tetapi bisa dinikmati oleh masyarakat di luar Kota Bekasi, bahkan mungkin di seluruh Indonesia,” katanya.

Menurutnya, pemanfaatan media digital dalam dakwah dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama konten dakwah tersebut masih bermanfaat bagi masyarakat.


Tantangan Puasa di Era Digital

Meski demikian, Ustadz Jaenudin mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga membawa tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda yang hidup di era digital.

Ia menyoroti fenomena digital fasting, yakni kemampuan seseorang menahan diri dari penggunaan perangkat digital secara berlebihan.

Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ia mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga semata.

Kalau dulu godaan puasa mungkin dari lapar dan haus. Sekarang justru godaan terbesar ada di dalam handphone kita,” katanya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap bulan Ramadan sudah semakin baik. Banyak tempat makan yang menghormati umat Islam dengan menutup usahanya di siang hari.

Namun godaan yang paling besar justru datang dari dunia digital yang selalu berada dalam genggaman tangan.

Ia kemudian mengajak jamaah untuk merenung tentang kebiasaan sehari-hari dalam menggunakan ponsel.

Coba kita jujur pada diri sendiri. Ketika bangun tidur, apa yang pertama kita cari? Doa atau handphone?” ujarnya disambut senyum jamaah.

Menurutnya, kebiasaan memeriksa ponsel hampir terjadi sepanjang hari—mulai dari perjalanan menuju tempat kerja, saat berada di kantor, ketika berkumpul dengan teman, hingga sebelum tidur kembali.


Fenomena Belanja dan Aktivitas Digital

Dalam ceramahnya, ia juga menyinggung fenomena masyarakat yang semakin akrab dengan aktivitas digital seperti belanja melalui marketplace.

Dengan gaya humor, ia menyebut ada beberapa tipe pengguna marketplace.

Pertama adalah rombongan hanya nanya”, yaitu mereka yang hanya melihat-lihat barang dan bertanya kepada penjual tetapi belum tentu membeli.

Kedua adalah rombongan jarang beli”, yaitu orang yang sekadar menghabiskan waktu melihat berbagai produk tanpa niat membeli.

Ketiga adalah kelompok pemburu diskon”, yaitu mereka yang menunggu momen potongan harga besar sebelum melakukan pembelian.

Fenomena tersebut, menurutnya, menunjukkan betapa besar waktu yang dihabiskan masyarakat di dunia digital.

Ia juga menyoroti perubahan cara masyarakat berinteraksi di era media sosial.

Kalau dulu kita diingatkan agar menjaga lisan karena tajamnya seperti pedang, sekarang yang harus dijaga adalah jari kita. Tulisan di media sosial bisa lebih tajam daripada pedang,” ujarnya.


Dampak pada Generasi Muda

Ustadz Jaenudin juga mengingatkan dampak penggunaan media digital tanpa batas bagi anak-anak dan remaja.

Menurutnya, terdapat tiga dampak yang perlu diwaspadai.

Pertama adalah degradasi moral, yaitu menurunnya etika dalam berbicara dan berperilaku. Anak-anak menjadi terbiasa menggunakan kata-kata kasar dan mulai kehilangan rasa hormat kepada orang tua maupun guru.

Kedua adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis. Anak-anak terbiasa mengonsumsi konten video singkat seperti yang banyak ditemukan di media sosial.

Akibatnya, mereka menjadi kurang sabar dalam membaca atau menyelesaikan masalah yang membutuhkan pemikiran lebih mendalam.

Ketiga adalah munculnya perilaku ketergantungan pada gawai, yang membuat anak sulit meninggalkan ponsel bahkan untuk melakukan aktivitas penting seperti belajar maupun beribadah.


Mengisi Media dengan Konten Positif

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak.

Menurutnya, teknologi bukanlah sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya, tetapi harus dimanfaatkan secara bijak.

Ia mengajak umat Islam untuk mengisi waktu di dunia digital dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti menonton kajian keislaman, ceramah motivasi, atau konten edukatif.

Kita ini adalah apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita lakukan. Kalau yang kita lihat baik, yang kita dengar baik, maka insyaAllah hidup kita juga akan menjadi baik,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial.

Menurutnya, banyak informasi yang beredar di dunia digital dapat menjadi fitnah jika tidak diverifikasi terlebih dahulu.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang diterima.


Dakwah Digital sebagai Amal Jariyah

Di akhir ceramahnya, ia kembali mengapresiasi peran Masjid Al-Iman dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan dakwah Islam.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa dakwah dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam.

Kalau dakwahnya terus disebarkan melalui media digital, maka manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. InsyaAllah ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *