Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

Korban Tewas di Gaza Tembus 72 Ribu Jiwa, PBB Soroti Dugaan Genozida dan Penyiksaan Sistematis

89
×

Korban Tewas di Gaza Tembus 72 Ribu Jiwa, PBB Soroti Dugaan Genozida dan Penyiksaan Sistematis

Sebarkan artikel ini
Kondisi di Gaza yang hancur dan korban tewas meningkat. (Foto:Ist)

ALIMANNEWS.COM, JAKARTA – Meski gencatan senjata mulai diberlakukan sejak 11 Oktober, jumlah korban tewas di Jalur Gaza terus meningkat. Hingga kini, korban jiwa dilaporkan mencapai 72.267 orang, dengan mayoritas merupakan perempuan dan anak-anak sejak dimulainya agresi Israel pada Oktober 2023.

Selain itu, sedikitnya 171.976 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Data tersebut diperkirakan belum mencerminkan kondisi sebenarnya, mengingat masih banyak korban yang tertimbun reruntuhan dan belum dapat dijangkau oleh tim medis maupun penyelamat.

Berdasarkan laporan sumber medis pada Kamis (26/3/2026), seperti dikutip dari WAFA, dalam 24 jam terakhir dua jenazah warga Palestina dan 17 korban luka telah dibawa ke sejumlah rumah sakit di Gaza. Sejak diberlakukannya gencatan senjata, jumlah korban tercatat sebanyak 691 orang meninggal dunia dan 1.876 lainnya luka-luka.

Di sisi lain, upaya evakuasi terus dilakukan. Sedikitnya 756 jenazah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan.

Sementara itu, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk situasi hak asasi manusia di wilayah pendudukan Palestina sejak 1967, Francesca Albanese, menyampaikan peringatan serius terkait dugaan praktik penyiksaan sistematis oleh Israel terhadap warga Palestina.

Dalam laporannya kepada Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Albanese menyebut sistem penjara Israel telah berubah menjadi “laboratorium” bagi praktik kekerasan berat yang disengaja sejak eskalasi konflik terbaru.

Ia menilai praktik yang sebelumnya tersembunyi kini dilakukan secara terbuka, mencerminkan adanya sistem yang diduga dibangun di atas penghinaan, rasa sakit, serta penyiksaan yang berlangsung secara sistematis dan mendapat legitimasi hingga tingkat politik tertinggi.

Albanese juga menyoroti kebijakan sejumlah pejabat Israel, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, yang dinilai memperkuat praktik penyiksaan, hukuman kolektif, serta kondisi penahanan yang tidak manusiawi.

Ia menegaskan bahwa pelanggaran tersebut tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun, termasuk dalam situasi konflik bersenjata, serta menyerukan adanya mekanisme pertanggungjawaban internasional, termasuk melalui Mahkamah Pidana Internasional.

Lebih lanjut, laporan tersebut mencatat bahwa sejak Oktober 2023, lebih dari 18.500 warga Palestina telah ditahan di wilayah pendudukan, termasuk sedikitnya 1.500 anak. Ribuan di antaranya dilaporkan ditahan tanpa dakwaan atau proses peradilan yang jelas.

Selain itu, sejumlah kasus penghilangan paksa turut dilaporkan, dengan sekitar 100 tahanan meninggal dunia selama masa penahanan.

Situasi kemanusiaan di Gaza hingga kini masih menjadi perhatian serius komunitas internasional, seiring meningkatnya jumlah korban dan belum optimalnya akses bantuan bagi warga terdampak konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *