ALIMANNEWS.COM, YOGYAKARTA – Muhammadiyah menegaskan posisinya sebagai gerakan Islam modernis yang tetap akomodatif terhadap tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan syariat.
Hal itu disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam Silaturahmi Syawal, Kamis (26/3). Ia mencontohkan tradisi Halal bi Halal yang telah dipraktikkan Muhammadiyah sejak 1920-an sebagai bentuk pendekatan kultural yang kontekstual.
“Secara bahasa mungkin diperdebatkan, tetapi sebagai tradisi sosial-keagamaan, Halal bi Halal sah dan menjadi solusi kultural khas Indonesia,” ujarnya.
Mu’ti menegaskan, Muhammadiyah tidak hanya fokus pada purifikasi ajaran, tetapi juga menghadirkan Islam yang membumi melalui pendekatan kontekstual berbasis Al-Qur’an dan Sunnah.
Di tengah era digital, ia juga menekankan pentingnya pertemuan fisik untuk memperkuat ukhuwah, meski interaksi virtual semakin dominan.
Selain itu, Muhammadiyah menghadirkan inovasi melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai solusi kepastian waktu ibadah umat Islam secara global. Implementasinya didukung aplikasi MASA yang menyediakan layanan informasi keislaman, donasi, hingga zakat.
Mu’ti pun mendorong warga Muhammadiyah lebih terbuka menyampaikan gagasan ke publik, mengingat banyak kontribusi persyarikatan yang belum dipahami luas.
Dengan pendekatan tajdid yang adaptif dan berbasis dalil kuat, Muhammadiyah dinilai mampu memadukan modernitas dan tradisi secara seimbang dalam menjawab tantangan zaman. (Riyanto/Java)






