Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

Nasihat Singkat Rasulullah: Menjalani Ibadah Seakan yang Terakhir

39
×

Nasihat Singkat Rasulullah: Menjalani Ibadah Seakan yang Terakhir

Sebarkan artikel ini
Benny Suhara, ketua DKM, kiri, dan Ustadz H. Abdurrahman Dasrul (kanan) (Foto: Dik/ANC)

Oleh: Ustadz H. Abdurrahman, S.Pd.I, M.A

ALIMANNEWS.COM – Dalam tradisi Islam, umat Muslim kerap meminta nasihat singkat kepada Nabi Muhammad SAW yang mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nasihat penting yang diriwayatkan dalam hadis adalah pesan agar seorang Muslim menjalankan ibadah dengan kesungguhan seolah-olah itu merupakan kesempatan terakhirnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila engkau mendirikan salat, maka salatlah seperti salat orang yang akan berpisah (salat terakhirnya).” Nasihat ini diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis dan menjadi pedoman penting dalam membangun kekhusyukan ibadah.

Pesan tersebut mengandung makna mendalam. Manusia tidak pernah mengetahui apakah setelah menunaikan satu salat, ia masih diberi kesempatan untuk melaksanakan salat berikutnya. Karena itu, setiap ibadah hendaknya dilakukan dengan kesadaran penuh, keikhlasan, serta ketundukan total kepada Allah SWT.

Ramadan sebagai Ibadah Terakhir

Prinsip yang sama juga berlaku dalam menjalani bulan suci Ramadan. Seorang Muslim dianjurkan menjalani Ramadan dengan semangat seolah-olah itu merupakan Ramadan terakhir dalam hidupnya. Dengan kesadaran tersebut, seseorang akan lebih bersungguh-sungguh dalam berpuasa, salat, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak amal kebaikan.

Kesadaran tentang keterbatasan hidup seringkali hadir melalui pengalaman kehilangan orang-orang tercinta. Ketika seseorang wafat setelah menjalani sakit atau perawatan panjang, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan tidak ada manusia yang mengetahui kapan ajalnya tiba.

Karena itu, Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus menata kembali orientasi hidup menuju akhirat.

Keutamaan Orang yang Berpuasa

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bahkan bersumpah tentang kemuliaan orang yang berpuasa. Beliau bersabda bahwa bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada wangi minyak kasturi.

Pesan hadis ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan seseorang mengabaikan kebersihan diri. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kemuliaan spiritual dari puasa, karena bau tersebut muncul dari ketaatan kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, sesuatu yang secara lahiriah mungkin tidak menyenangkan bagi manusia justru dapat bernilai sangat tinggi di sisi Allah apabila lahir dari ibadah.

Hikmah: Tidak Semua yang Disukai Itu Baik

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia seringkali tidak mengetahui mana yang terbaik bagi dirinya. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 216, Allah menegaskan bahwa boleh jadi manusia tidak menyukai sesuatu padahal di dalamnya terdapat kebaikan, dan sebaliknya manusia menyukai sesuatu padahal itu justru buruk baginya.

Prinsip ini terlihat jelas dalam ibadah puasa. Bagi sebagian orang, menahan lapar dan dahaga terasa berat. Namun di balik kesulitan tersebut tersimpan hikmah besar berupa penguatan iman, pengendalian diri, serta kedekatan dengan Allah.

Keutamaan Salat Tarawih

Salah satu ibadah utama di bulan Ramadan adalah salat tarawih. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan salat tarawih bersama imam hingga selesai akan mendapatkan pahala seperti orang yang beribadah sepanjang malam.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar jamaah mengikuti salat tarawih hingga imam menutupnya dengan salat witir. Meski terdapat perbedaan jumlah rakaat dalam praktiknya, esensi dari tarawih adalah menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah dan dzikir.

Dalam hadis lain, Nabi juga memberikan pedoman bagi para imam salat. Beliau menegaskan bahwa imam hendaknya meringankan bacaan ketika memimpin jamaah, karena di antara makmum terdapat orang yang lemah, lanjut usia, atau sedang memiliki keperluan. Namun jika seseorang salat sendirian, ia dipersilakan memanjangkan bacaan sesuai kemampuannya.

Ridha terhadap Ketentuan Allah

Puasa Ramadan juga mengajarkan satu nilai penting dalam spiritualitas Islam, yaitu ridha terhadap ketentuan Allah. Seorang mukmin diajarkan untuk menerima takdir dengan lapang dada, baik dalam hal yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai.

Orang yang mampu menerima keputusan Allah dengan kerelaan hati diyakini akan memperoleh ridha dari Allah SWT. Dalam perspektif tasawuf, sikap ridha merupakan tanda kedewasaan spiritual seorang hamba.

Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kesabaran, ketulusan, serta kepercayaan penuh kepada kebijaksanaan Allah dalam menentukan jalan hidup manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *