Oleh: Ustadz Drs. H. Mujahid Halim
Penceramah/Pengamat Islam dan Syariah
ALIMANNEWS.COM, KOTA BEKASI — Ustadz Drs. H. Mujahid Halim, penceramah, pengamat Islam dan Syariah memberikan nasehat (tausyiah) malam menjelang sholat Tarawih di Masjid Al-Iman, Kotabaru, Kota Bekasi, (Minggu, 08-03-2026). Bulan suci Ramadan tidak sekadar menjadi momentum ibadah ritual, tetapi juga merupakan ruang pendidikan spiritual yang mendorong umat Islam melakukan transformasi diri secara menyeluruh. Pesan tersebut disampaikan dalam tausiyah keagamaan di hadapan jamaah Masjid Al-Iman pada salah satu malam Ramadan, yang menekankan pentingnya menjadikan puasa sebagai sarana penyucian diri sekaligus peningkatan kualitas keimanan.
Dalam pengantar tausiyahnya, sang penceramah mengingatkan bahwa Ramadan merupakan anugerah besar dari Allah SWT. Di bulan yang penuh keberkahan ini, umat Islam diberikan kesehatan, kesempatan, serta berbagai kemudahan untuk memperbanyak amal ibadah.
“Ramadan adalah peluang besar untuk melipatgandakan pahala dan memperbaiki kualitas diri. Harapannya, setelah Ramadan, seorang Muslim mampu kembali dalam keadaan suci, bersih dari dosa, serta memiliki derajat keimanan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ramadan: Membakar Dosa dan Menghidupkan Semangat Ibadah
Secara etimologis, kata Ramadan kerap dimaknai sebagai “membakar”. Para ulama menafsirkan makna tersebut dalam dua dimensi utama. Pertama, Ramadan menjadi momentum “membakar” atau menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan manusia. Kedua, Ramadan juga membakar semangat spiritual umat Islam untuk semakin giat beribadah.
Karena itu, dalam tradisi keilmuan Islam, Ramadan sering disebut sebagai syahrul madrasah—bulan pendidikan atau bulan pelatihan rohani. Di dalamnya terdapat proses pembinaan karakter, penajaman spiritualitas, serta latihan pengendalian diri.
Namun, penceramah mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak diukur dari lamanya menahan lapar dan dahaga semata. Yang jauh lebih penting adalah munculnya transformasi karakter setelah menjalani ibadah puasa.
“Puasa yang berhasil akan melahirkan perubahan mental, perubahan akhlak, serta peningkatan kualitas kepribadian. Jika tidak ada perubahan apa pun, maka puasa itu hanya menjadi rutinitas fisik tanpa makna spiritual,” tegasnya.
Ia mengibaratkan puasa yang berhasil seperti proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu—sebuah perubahan menuju bentuk yang lebih indah dan sempurna.
Ciri Orang Beriman: Syukur dan Sabar
Dalam perspektif Al-Qur’an, ciri orang beriman antara lain memiliki keseimbangan antara rasa takut kepada Allah dan harapan akan rahmat-Nya. Al-Qur’an juga berulang kali menegaskan bahwa orang beriman tidak seharusnya larut dalam kegelisahan terhadap takdir kehidupan.
Menurut para sahabat Nabi Muhammad SAW, kehidupan seorang mukmin pada dasarnya memiliki dua cabang utama: syukur dan sabar. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur; ketika menghadapi ujian, ia bersabar.
“Dalam kondisi apa pun, jika seseorang mampu bersyukur dan bersabar, maka ridha Allah akan menyertainya,” jelasnya.
Karena itu, umat Islam diingatkan untuk tidak terjebak dalam kekhawatiran berlebihan terhadap urusan dunia, seperti usia yang semakin menua, kesehatan yang menurun, ataupun kondisi ekonomi setelah masa pensiun.
Ramadan dan Tradisi Muhasabah
Salah satu praktik penting selama Ramadan adalah muhasabah, yaitu proses introspeksi diri. Melalui muhasabah, seorang Muslim menilai kembali kualitas ibadahnya: apakah shalatnya sudah khusyuk, apakah puasanya benar-benar menghadirkan keikhlasan, serta sejauh mana ia memahami Al-Qur’an.
Dalam konteks ini, penceramah mendorong jamaah untuk memperbanyak aktivitas spiritual seperti:
-
Tadarus Al-Qur’an, baik membaca maupun memahami maknanya
-
Mengaji tafsir, agar ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipahami secara mendalam
-
Menghadiri majelis taklim dan tausiyah, sebagai sarana memperbarui ilmu agama
-
Menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, terutama surah-surah pendek
“Bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Maka umat Islam harus mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, baik melalui bacaan, pemahaman, maupun pengamalan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam kehidupan seorang mukmin tidak ada istilah “pensiun” dari ibadah. Selama masih diberi kehidupan, seorang Muslim dituntut untuk terus memperbaiki kualitas amalnya sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Kisah Hikmah dari Tasawuf Modern
Di akhir tausiyahnya, penceramah mengutip sebuah kisah inspiratif dari buku Tasawuf Modern yang ditulis oleh ulama besar Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah.
Dalam kisah tersebut diceritakan tentang seorang raja besar bernama Iskandar Zulkarnain yang suatu hari mengajak pasukannya melakukan perjalanan panjang untuk memperluas wilayah kekuasaan. Sebelum berangkat, ia memberi pesan sederhana kepada para prajuritnya.
Di sepanjang perjalanan, raja itu memerintahkan setiap prajurit untuk mengambil batu yang mereka temui di jalan dan memasukkannya ke dalam tas.
Sebagian prajurit menjalankan perintah itu dengan penuh kesungguhan. Namun sebagian lainnya menganggapnya remeh dan hanya mengambil sedikit batu, bahkan ada yang tidak mengambil sama sekali karena menganggapnya tidak penting.
Ketika perjalanan berakhir dan mereka membuka tas masing-masing, batu-batu yang dikumpulkan ternyata berubah menjadi permata yang sangat berharga. Prajurit yang rajin mengumpulkan batu merasa sangat beruntung, sementara mereka yang malas menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan.
Kisah tersebut menjadi metafora bagi kehidupan manusia, terutama dalam memanfaatkan waktu Ramadan.
“Amal kecil yang kita lakukan hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kelak di akhirat nilainya bisa menjadi sangat besar,” pungkasnya.
Momentum Perubahan
Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum perubahan. Ia adalah madrasah spiritual yang membentuk manusia agar lebih sabar, lebih bersyukur, serta lebih dekat dengan Al-Qur’an dan Allah SWT.
Dengan menjadikan Ramadan sebagai sarana muhasabah dan pembinaan diri, umat Islam diharapkan mampu keluar dari bulan suci ini dengan kualitas iman yang lebih matang serta akhlak yang lebih mulia. (dik/ANC)