Islam Insight
Khutbah Jum’at : Ustadz H. Abdurrahman Dasrul, S. Pd.I., M. A.
ALIMANNEWS.COM – Dalam salah satu khutbah Jumat, khatib Ustadz H. Abdurrahman Dasrul, mengingatkan jamaah tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai bekal utama kehidupan. Pesan tersebut berangkat dari firman Allah dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal manusia adalah ketakwaan.
Khutbah dimulai dengan seruan agar kaum Muslimin senantiasa bersyukur atas nikmat kesempatan beribadah, termasuk melaksanakan salat Jumat. Jamaah juga diajak memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan memperoleh syafaat beliau kelak di hari akhir.
Ketakwaan sebagai Bekal Terbaik
Dalam kehidupan dunia, manusia sering kali mengumpulkan berbagai bekal berupa harta, jabatan, dan kekuasaan. Namun menurut ajaran Islam, semua itu tidak akan berarti tanpa ketakwaan kepada Allah SWT.
Khatib mengingatkan bahwa ketakwaan merupakan perbekalan yang paling berharga, baik ketika menjalani kehidupan di dunia maupun saat manusia kembali menghadap Allah di akhirat.
“Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, semua itu tidak akan bernilai jika tidak disertai ketakwaan,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut.
Kecenderungan Manusia terhadap Dunia
Kecintaan manusia terhadap dunia merupakan fitrah yang diakui dalam Islam. Allah sendiri menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan mencintai berbagai kenikmatan dunia seperti pasangan hidup, anak-anak, harta, emas, perak, hingga kendaraan yang mewah.
Fenomena tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an, yang menggambarkan bagaimana berbagai kenikmatan dunia tampak indah di mata manusia.
Namun demikian, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa semua itu hanyalah kesenangan sementara. Di sisi Allah terdapat kehidupan yang jauh lebih baik dan lebih kekal.
Karena itu, Islam tidak melarang seseorang memiliki harta, jabatan, atau kekuasaan. Seorang Muslim boleh memiliki semuanya, selama tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya.
Bahaya Ketertipuan Dunia
Dalam khutbah tersebut juga diingatkan bahwa manusia tidak boleh tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kesibukan mengejar harta dan kemewahan dapat melalaikan manusia dari mengingat Allah.
Kecenderungan memamerkan kekayaan, kendaraan mewah, atau jabatan sering kali membuat manusia lupa bahwa semua itu hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali kepada Allah.
Tiga Harta yang Sebenarnya Milik Manusia
Pesan paling penting dalam khutbah tersebut merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi, Abu Hurairah. Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa manusia sering menganggap harta sebagai miliknya, padahal yang benar-benar menjadi milik manusia hanya tiga hal.
Pertama, apa yang telah dimakan. Makanan yang telah masuk ke dalam tubuh menjadi bagian dari diri manusia.
Kedua, apa yang dipakai. Pakaian yang dikenakan adalah bagian dari nikmat yang benar-benar dinikmati manusia.
Ketiga, apa yang disedekahkan di jalan Allah. Harta yang dikeluarkan untuk infak dan sedekah justru menjadi simpanan yang abadi di sisi Allah SWT.
Sementara itu, harta yang hanya disimpan tanpa dimanfaatkan pada akhirnya akan ditinggalkan ketika manusia meninggal dunia.
Harta yang Mengikuti hingga Kubur
Dalam hadis lain, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, ada tiga hal yang mengantarkannya ke kubur: keluarganya, hartanya, dan amalnya.
Namun dua di antaranya akan kembali pulang, yaitu keluarga dan harta. Hanya satu yang tetap bersama manusia di alam kubur, yaitu amal perbuatannya selama hidup di dunia.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan sejati bukanlah yang terlihat di dunia, melainkan amal kebaikan yang akan menyertai manusia hingga akhirat.
Menjadi Kaya di Hadapan Allah
Khutbah tersebut menutup pesannya dengan renungan bahwa seseorang bisa saja terlihat miskin di mata manusia, tetapi sangat kaya di sisi Allah. Sebaliknya, ada pula orang yang tampak kaya di dunia, tetapi miskin dalam amal kebaikan.
Orang yang benar-benar kaya di hadapan Allah adalah mereka yang gemar bersedekah, membantu sesama, dan menggunakan hartanya untuk kebaikan.
Karena itu, kaum Muslimin diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia. Harta, jabatan, dan kekuasaan boleh dimiliki, tetapi semuanya harus diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan demikian, kehidupan dunia tidak menjadi tujuan akhir, melainkan jalan untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi di akhirat.