Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Islam Insight

“Ummati… Ummati…”: Cinta Rasulullah ﷺ di Akhir Nafas

15
×

“Ummati… Ummati…”: Cinta Rasulullah ﷺ di Akhir Nafas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi : Azrael—The Angel of Death in Islamic Tradition (funeral.com)

ALIMANNEWS.COM – Di saat ajal semakin dekat, dunia terasa semakin jauh dari pandangan. Namun bagi manusia terbaik sepanjang zaman, detik-detik terakhir bukanlah tentang dirinya—melainkan tentang umatnya.

Saat sakit semakin berat, Rasulullah ﷺ terbaring di pangkuan istrinya tercinta, Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Wajah beliau pucat, tubuhnya lemah, namun lisannya tetap basah dengan dzikir kepada Allah.

Kedatangan Malaikat dan Permintaan yang Istimewa

Dalam riwayat disebutkan, Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah ﷺ. Ia menyampaikan bahwa Malaikat Maut telah diizinkan oleh Allah untuk mencabut ruh beliau, namun dengan keistimewaan yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun:
Malaikat Maut tidak akan mencabut ruh sebelum meminta izin kepada Rasulullah ﷺ.

Jibril berkata,
“Wahai Rasulullah, inilah Malaikat Maut. Ia meminta izin untuk masuk. Ia tidak pernah meminta izin kepada siapa pun sebelum engkau, dan tidak akan meminta izin kepada siapa pun setelah engkau.”

Rasulullah ﷺ pun mengizinkannya.

Cinta Terakhir untuk Umat

Ketika saat perpisahan semakin dekat, Rasulullah ﷺ beberapa kali mengucapkan kalimat yang membuat langit dan bumi seakan ikut menangis:

“Ummati… ummati…”
(Umatku… umatku…)

Bahkan di saat sakaratul maut, yang beliau pikirkan bukanlah keluarganya, bukan hartanya, bukan dirinya—tetapi keselamatan umatnya di hari kiamat.

Betapa besar cinta beliau kepada kita. Betapa dalam kasih sayang seorang Nabi kepada umat yang bahkan belum pernah ia temui.

Pilihan Kembali kepada Allah

Ketika diperlihatkan pilihan antara hidup lebih lama di dunia atau kembali kepada Allah, Rasulullah ﷺ memilih untuk bertemu dengan Rabb-nya.

Dengan suara yang semakin lemah, beliau mengucapkan:

“Allahumma fir Rafîqil A‘la”
(Ya Allah, aku memilih bersama Kekasih Yang Maha Tinggi.)

Dan saat itulah, ruh manusia paling mulia kembali kepada Sang Pencipta.

Pesan untuk Kita

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang perpisahan, tetapi pengingat tentang cinta yang tulus dan pengorbanan yang luar biasa.

Jika Rasulullah ﷺ begitu mencintai umatnya, maka sudah sepatutnya kita membalas cinta itu dengan:

  • Mengikuti sunnahnya
  • Memperbanyak shalawat
  • Menjaga shalat
  • Berakhlak mulia
  • Mencintai sesama muslim

Karena kelak, di hari kiamat, beliau yang akan memberi syafaat kepada umatnya.

Rasulullah ﷺ telah pergi, tetapi ajarannya tetap hidup.
Cintanya masih terasa, melalui setiap sunnah yang kita amalkan.

Semoga kita termasuk umat yang diakui oleh beliau di hari kiamat, dan mendapatkan syafaatnya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *