Islam Insight (Khubah Idul Fitri) ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHT
Oleh: Ustadz Mahmuddin Abu Izzi, M.Pd.I, M. Sos
*”Seorang cendekiawan Muslim muda, intelektual, dan penceramah asal Kota Bekasi yang menjadi salah satu pemikir dalam upaya mencerahkan berbagai persoalan sosial umat Islam.”*
Di hadapan jamaah salat Id, Ustadz Mahmuddin Abu Izzi membuka khutbah dengan takbir, pujian kepada Allah SWT, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mengajak umat untuk meningkatkan ketakwaan dan menjaga keimanan hingga akhir hayat, sebagaimana perintah Al-Qur’an untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka.
Momentum Idul Fitri, menurutnya, bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi atas perjalanan spiritual selama Ramadan. Ia menegaskan bahwa Ramadan meninggalkan dua perasaan sekaligus: kesedihan karena belum tentu berjumpa kembali, dan kebahagiaan karena diharapkan keluar sebagai pribadi bertakwa.
“Ramadan adalah madrasah ruhiyah. Ukuran keberhasilannya bukan hanya pada ibadah selama sebulan, tetapi sejauh mana kita istiqamah melanjutkan amal sholeh setelahnya,” ujar Ustadz Mahmuddin.
Ia mengutip pandangan ulama, bahwa tanda diterimanya amal adalah dimudahkan untuk melakukan kebaikan berikutnya. Sebaliknya, kemaksiatan yang berlanjut menjadi indikator lemahnya kualitas ibadah sebelumnya.
Visi Pernikahan: Dari Dunia Menuju Akhirat
Dalam khutbahnya, Ustadz Mahmuddin mengurai secara mendalam makna pernikahan melalui kisah inspiratif Najmuddin, tokoh di Tikrit, Irak, yang memilih pasangan hidup bukan berdasarkan status sosial, melainkan kesamaan visi menuju surga.
Najmuddin, lanjutnya, menginginkan pasangan yang mampu membimbingnya ke jalan Allah serta melahirkan generasi saleh. Hal yang sama juga diungkapkan oleh calon istrinya. Pertemuan visi ini kemudian melahirkan sosok besar dalam sejarah Islam, yakni Shalahuddin Al-Ayyubi, pembebas Masjidil Aqsa.
“Kisah ini menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan duniawi, tetapi proyek peradaban. Dari keluarga yang benar, lahir generasi pembebas,” tegasnya.
Ia menambahkan, visi utama pernikahan adalah menjaga keluarga dari siksa neraka dan mengantarkan seluruh anggota keluarga menuju surga. Prinsip ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an agar setiap mukmin menjaga diri dan keluarganya.
Menurutnya, tanggung jawab terbesar berada pada kepala keluarga. Seorang suami tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memastikan pendidikan iman, akhlak, dan arah hidup keluarganya tetap berada di jalan ketaatan.
Dari Saleh ke Muslih: Kepedulian Sosial Umat
Selain membangun keluarga, khutbah juga menekankan transformasi individu dari sekadar saleh menjadi muslih, yakni pribadi yang memberi dampak bagi lingkungan dan umat.
Ustadz Mahmuddin menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh hidup individualistis. Kepedulian terhadap sesama, termasuk yang berada jauh secara geografis, merupakan bagian dari iman.
Dalam konteks ini, ia menyoroti kondisi Palestina sebagai ujian nyata solidaritas umat Islam. Kepedulian terhadap Masjidil Aqsa dan rakyat Palestina, menurutnya, bukan sekadar isu politik, tetapi bagian dari tanggung jawab keimanan dan sejarah umat.
“Orang besar dalam sejarah Islam selalu berpikir melampaui dirinya. Mereka memikirkan umat. Palestina adalah cermin kepedulian kita sebagai muslim,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya melihat persoalan umat secara komprehensif dan tidak parsial, termasuk dalam menyikapi dinamika geopolitik dunia Islam. Dalam sejarah, Nabi Muhammad SAW pun pernah membangun komunikasi dan perlindungan lintas kelompok demi menjaga keselamatan dakwah.
Ramadan: Momentum Transformasi Keluarga dan Sosial
Ustadz Mahmuddin menegaskan, Ramadan sejatinya telah menyediakan sarana pembinaan yang lengkap, baik dalam membangun keharmonisan keluarga maupun menumbuhkan kepedulian sosial.
Aktivitas seperti sahur bersama, berbuka puasa, hingga salat tarawih berjamaah menjadi medium memperkuat ikatan keluarga. Sementara ibadah puasa melatih empati terhadap kaum yang kurang beruntung.
“Ramadan mendidik kita untuk peduli. Jika setelah Ramadan kita tetap acuh terhadap sesama, maka ada yang perlu kita evaluasi dari ibadah kita,” katanya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan Ramadan tercermin dari perubahan sikap setelahnya—lebih peduli, lebih disiplin dalam ibadah, serta lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Doa untuk Umat dan Palestina
Mengakhiri khutbah, Ustadz Mahmuddin mengajak jamaah menundukkan hati dalam doa, memohon ampunan atas dosa, diterimanya seluruh amal ibadah Ramadan, serta keberkahan dalam kehidupan keluarga.
Doa juga dipanjatkan untuk keselamatan dan kemenangan umat Islam di berbagai belahan dunia, khususnya Palestina. Ia berharap Allah SWT memberikan pertolongan kepada kaum tertindas serta menanamkan kepedulian dalam diri setiap muslim.
“Semoga Allah menjadikan kita bagian dari umat yang tidak hanya selamat secara pribadi, tetapi juga hadir membawa manfaat bagi umat,” tutupnya.
Khutbah Idul Fitri ini menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya merayakan berakhirnya Ramadan, tetapi menjaga nilai-nilainya tetap hidup dalam setiap aspek kehidupan—keluarga, masyarakat, dan kepedulian global umat Islam.