Scroll untuk baca artikel
Example 300x300
Example 728x250
Oase Iman

Ustadz Syaiful Anwar: “Kisah Umar bin Khattab Teladan Kepemimpinan yang Adil”

11
×

Ustadz Syaiful Anwar: “Kisah Umar bin Khattab Teladan Kepemimpinan yang Adil”

Sebarkan artikel ini
Ustadz H. Syaiful Anwar (Kiri baju merah hati), didampingi Imam Masjid Al-Iman Ustadz Sulaeman (kanan) dan salah satu jamaah masjid Al-Iman (Foto: AlimanNews)

Oleh: Ustadz H. Syaiful Anwar
Tausiah Ramadhan di Masjid Al-Iman (21-02-2026), Kotabaru, Kota Bekasi

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan tidak menzalimi sesama manusia.

Promo untuk Anda
Example 300x300
Promo server terbaik

Kaum Muslimin rahimakumullah,
Dikisahkan pada suatu masa, sebuah masjid hendak diperluas demi kemaslahatan umum. Banyak rumah di sekitar lokasi telah dibeli, bahkan dengan harga berlipat ganda dari harga pasar. Pemiliknya rela menjual karena melihat tujuan mulia pembangunan tersebut.

Namun, ada satu rumah tua milik seorang Yahudi yang tidak mau dijual. Rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan warisan sejarah keluarganya selama ratusan tahun. Ia berkata, “Di rumah ini ayah dan kakekku dilahirkan. Rumah ini sudah ada sebelum masjid itu ada. Aku tidak akan menjualnya.”

Karena dianggap menghambat kepentingan umum, rumah itu akhirnya digusur tanpa kerelaannya. Merasa dizalimi, orang tersebut menempuh perjalanan sangat jauh—berhari-hari melintasi panas dan dingin—menuju Madinah untuk mencari keadilan kepada khalifah, yaitu Umar bin Khattab.

Sesampainya di Madinah, ia tidak menemukan istana megah. Ia justru mendapati sang khalifah sedang beristirahat di bawah pohon, tanpa pengawal, tanpa kemewahan. Di situlah ia mengadukan kezalimannya.

Khalifah Umar tidak langsung memarahi atau menghukum. Beliau hanya mengambil sepotong tulang, menuliskan pesan singkat, lalu menyerahkannya kepada orang itu untuk dibawa kembali kepada gubernur di Mesir.

Isi pesannya mengingatkan:

Wahai pemimpin, ingatlah bahwa engkau akan mati sebagaimana tulang ini akan hancur. Janganlah engkau berbuat zalim kepada rakyat, sekalipun kepada yang berbeda agama.”

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Ketika gubernur membaca pesan itu, ia gemetar. Ia sadar bahwa jabatan bukanlah kekuasaan mutlak, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ia segera memerintahkan agar rumah tersebut dibangun kembali dan hak pemiliknya dikembalikan. Bahkan pembangunan masjid diarahkan agar tidak menyentuh rumah itu sedikit pun.

Inilah teladan kepemimpinan dalam Islam.
Bukan kepemimpinan yang menindas, tetapi yang melindungi.
Bukan yang memanfaatkan jabatan, tetapi yang takut kepada Allah.

Hadirin sekalian,
Dari kisah ini kita belajar bahwa pemimpin ideal dalam Islam memiliki empat sifat utama:

  1. Jujur (Shiddiq) – tidak memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
  2. Amanah – menjaga hak rakyat, terutama yang lemah.
  3. Tabligh – menyampaikan kebenaran dan berani menegakkan keadilan.
  4. Fathanah – cerdas dan bijaksana dalam mengelola urusan umat.

Pemimpin seperti itulah yang akan membawa keberkahan, bukan kerusakan. Bila pemimpin adil, masyarakat akan tenteram. Bila amanah ditegakkan, kesejahteraan akan datang.

Maka tugas kita bukan hanya berharap pemimpin yang baik, tetapi juga menjadi masyarakat yang mendoakan, mendukung kebaikan, dan mengingatkan dengan cara yang benar. (ANZ)

Marilah kita berdoa:

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pemimpin yang jujur,
pemimpin yang amanah,
pemimpin yang adil,
yang mengelola negeri ini untuk kemaslahatan seluruh rakyat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *