Scroll untuk baca artikel
Example 300x300
Example 728x250
Oase Iman

Ustadz Zaenal Abidin: “Dunia Hanya Sementara, Akhirat Selamanya”

46
×

Ustadz Zaenal Abidin: “Dunia Hanya Sementara, Akhirat Selamanya”

Sebarkan artikel ini
Ustadz Zaenal Abidin (kanan) dan H. Bubun Hartono Imam Masjid Al-Iman (kiri) (Foto: ANZ)

Oleh: Ustadz Zaenal Abidin

OASE IMAN, ALIMANNEWS.COM – Nikmat Allah yang kita rasakan sejak bangun tidur hingga saat ini tidak akan pernah mampu dihitung. Nafas yang kita hirup, kesehatan yang kita gunakan, waktu yang kita jalani—semuanya adalah karunia besar. Seandainya manusia mencoba menghitungnya, niscaya ia tidak akan sanggup, apalagi membalasnya. Maka kewajiban kita hanyalah satu: bersyukur.

Promo untuk Anda
Example 300x300
Promo server terbaik
Ustadz Zaenal Abidin

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya hanya memiliki dua fase:

  1. Kehidupan dunia — singkat dan sementara.
    Rata-rata manusia hidup 60, 70, atau 80 tahun, sangat sedikit yang mencapai lebih.
  2. Kehidupan akhirat — panjang tanpa batas, tidak ada akhir selamanya.

Perbandingan keduanya seperti setetes air dibanding lautan luas. Namun sering kali manusia justru lebih sibuk mengejar yang sementara, sementara yang kekal dilupakan.

Umur Panjang Bukan Jaminan, Tetapi Amanah

Panjang umur bukanlah ukuran kemuliaan, melainkan amanah untuk memperbanyak ketaatan. Banyak orang diberi usia panjang, tetapi tidak dimanfaatkan untuk ibadah. Waktunya habis untuk urusan dunia, sementara bekal akhirat kosong.

Padahal untuk urusan dunia, manusia rela berangkat pagi, pulang sore, menembus hujan dan lelah. Tetapi ketika dipanggil untuk shalat berjamaah, sering muncul berbagai alasan.

Rasulullah ﷺ telah memberi teladan sederhana:

  • Shalat di awal waktu,
  • Shalat berjamaah,
  • Shalat di masjid (bagi laki-laki).

Amalan yang tampak ringan ini justru bernilai besar di sisi Allah.

Dunia Adalah Ladang, Bukan Tujuan

Para ulama mengibaratkan dunia seperti sebidang tanah. Jika tanah itu tidak diolah, maka:

  • Akan tumbuh semak liar,
  • Dipenuhi duri,
  • Bahkan menjadi sarang binatang berbahaya.

Begitulah hati manusia. Jika tidak diisi iman dan amal saleh, ia akan dipenuhi kelalaian dan dosa. Dunia bukan untuk dinikmati tanpa arah, tetapi untuk ditanami amal sebagai bekal menuju akhirat.

Siapa Orang yang Beruntung?

Allah telah menjelaskan kriteria manusia yang tidak merugi dalam Surah Al-Asr:

  • Orang yang beriman,
  • Beramal saleh,
  • Saling menasihati dalam kebenaran,
  • Saling menasihati dalam kesabaran.

Selain itu, manusia berada dalam kerugian, betapapun banyak hartanya.

Jadikan Hidup Sebagai Persiapan

Dunia ini adalah madrasah menuju akhirat. Setiap hari adalah ujian:

  • Ujian iman,
  • Ujian syukur,
  • Ujian bagaimana kita menggunakan waktu.

Jika hari ini lebih baik dari kemarin, kita termasuk orang beruntung. Jika sama saja, kita merugi. Apalagi jika lebih buruk, itulah kerugian yang nyata.


Maka selama masih diberi umur, mari kita olah “ladang dunia” ini dengan iman, ibadah, dan amal saleh.
Karena yang singkat akan segera berakhir, sedangkan yang kekal sedang menanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *