Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Islam Insight

Ustadz Zaenal Abidin: “Kebahagiaan Hakiki Ada dalam Agama, Salat Jadi Kunci Utama”

40
×

Ustadz Zaenal Abidin: “Kebahagiaan Hakiki Ada dalam Agama, Salat Jadi Kunci Utama”

Sebarkan artikel ini
Ustadz Zaenal Abidin (Baju Gamis Merah) bersama Imam Besar Masjid Al-Iman dan Ketua DKM Al-Iman (Foto: Dik?ANC)

ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHT — Setiap orang tua pada dasarnya menginginkan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Namun, cara meraih kebahagiaan tersebut sering kali berbeda-beda.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Zaenal Abidin pendakwah Kota Bekasi  menjelaskan bahwa sebagian orang tua berharap anaknya sukses secara duniawi—menempuh pendidikan tinggi hingga S1, S2, S3, memiliki pekerjaan mapan, bahkan menjadi pejabat.

Di sisi lain, ada pula yang memilih jalan berbeda dengan memasukkan anak ke pesantren agar menjadi pribadi yang alim dan dekat dengan agama.

“Semua pilihan itu tidak salah. Namun kita perlu memahami, kebahagiaan dunia itu terbatas, hanya 60 atau 70 tahun. Sementara kebahagiaan karena agama akan kekal hingga akhirat,” ujarnya.

Menurutnya, kesuksesan dunia seperti jabatan atau kekayaan bersifat sementara. Ketika masa jabatan berakhir atau usia semakin menua, semua itu akan ditinggalkan.

Sebaliknya, pendidikan agama dan amal saleh akan terus menjadi bekal yang tidak terputus, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

Meneladani Rasulullah sebagai Jalan Kebahagiaan

Ia menegaskan bahwa jalan kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dalam diri Muhammad terdapat teladan terbaik bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

“Kalau kita mencari kebahagiaan selain dari jalan Rasulullah, maka itu hanya bersifat sementara. Kebahagiaan yang hakiki ada dalam agama,” tegasnya.

Dunia sebagai Tempat Ujian

Ustadz Zaenal Abidin juga mengingatkan bahwa kehidupan di dunia merupakan ujian bagi setiap manusia. Segala hal yang dimiliki—harta, keluarga, jabatan—merupakan bagian dari ujian tersebut.

Karena itu, manusia tidak boleh lalai dari tujuan utama hidup, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Salah satu bentuk ibadah yang paling utama setelah iman adalah salat.

Salat, Penentu Baik Buruknya Amal

Ustadz Zaenal Abidin menekankan pentingnya salat sebagai amalan utama dalam Islam. Salat merupakan perintah langsung dari Allah SWT dan menjadi amalan pertama yang akan dihisab di akhirat.

Jika salat seseorang baik, maka seluruh amalnya akan ikut baik. Sebaliknya, jika salatnya rusak, maka amal lainnya pun akan ikut rusak.

“Salat itu seperti kepala dalam tubuh. Kalau kepala tidak ada, maka tidak ada kehidupan. Begitu pentingnya salat dalam kehidupan seorang Muslim,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa salat tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun. Jika tidak mampu berdiri, maka boleh dilakukan dengan duduk, bahkan berbaring sesuai kemampuan.

Pentingnya Menjaga Salat dalam Keluarga

Selain itu, ia mengajak para orang tua untuk membiasakan salat dalam keluarga. Anak-anak harus diajarkan salat sejak dini agar tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah.

Dalam ajaran Islam, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memerintahkan anak melaksanakan salat dan membimbing mereka dalam menjalankannya.

Menurutnya, banyak orang yang mampu menjalankan puasa, tetapi masih lalai dalam menjaga salat. Padahal, salat merupakan kewajiban utama yang tidak boleh diabaikan.

Keutamaan Salat Berjamaah

Ia juga menjelaskan keutamaan salat berjamaah, terutama salat Subuh dan Isya. Dalam hadits disebutkan bahwa salat berjamaah memiliki pahala yang sangat besar, bahkan setara dengan ibadah sepanjang malam.

Namun, keutamaan ini sering kali tidak disadari sehingga banyak orang masih meremehkannya.

Menjaga Iman di Akhir Zaman

Di akhir tausiyahnya, penceramah mengingatkan bahwa manusia hidup di zaman yang penuh tantangan, di mana banyak godaan yang dapat melemahkan iman.

Ia menegaskan bahwa para nabi diutus untuk meluruskan keyakinan manusia agar tetap berada di jalan yang benar. Namun seiring waktu, banyak manusia yang lebih mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk wahyu.

Karena itu, momentum Ramadan harus dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan memperkuat keimanan.

“Tanamkan dalam hati kita, tidak ada kebahagiaan dan kejayaan, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali dengan menjalankan agama secara sempurna,” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *