Momentum Tazkiyatun Nafs dan Peningkatan Amal
Oleh: Ustadz H. Zen Roni
OASE IMAN, ALIMANNEWS.COM – Ramadan hadir bukan hanya sebagai bulan ibadah ritual, tetapi sebagai madrasah ruhani untuk membentuk manusia bertakwa. Puasa yang disyariatkan Islam tidak berhenti pada menahan makan dan minum, melainkan melatih pengendalian diri secara menyeluruh: lisan, hati, pikiran, dan perilaku.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menjadi parameter utama: puasa dinilai dari perubahan takwa, bukan sekadar perubahan pola makan.
Puasa: Ibadah yang Menghidupkan Kesadaran
Secara fikih, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga maghrib. Namun secara hakikat, para ulama menjelaskan bahwa makna shaum adalah menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Isyarat ini tampak pula dalam Surah Maryam ayat 26, ketika kata shaum dimaknai sebagai menahan diri, termasuk dari berbicara.
Karena itu, orang yang hanya menahan lapar tetapi tetap berdusta, mencela, atau menyakiti sesama, belum memahami ruh puasa. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan haus.
Ramadan: Bulan Peningkatan, Bukan Sekadar Penahanan
Ramadan justru menjadi waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah:
- Memperbaiki shalat wajib, karena itulah amal pertama yang dihisab.
- Menghidupkan shalat sunnah, seperti tarawih dan qiyamul-lail, sebagai penyempurna kekurangan.
- Memperbanyak tilawah Al-Qur’an, sebab Ramadan adalah bulan diturunkannya wahyu.
- Menjaga akhlak, menahan amarah, memperbanyak sabar, dan memperhalus hubungan dengan sesama.
Puasa yang benar melahirkan kelembutan, bukan kemarahan; melahirkan kejujuran, bukan kepura-puraan.
Ibadah Adalah Kehormatan, Bukan Beban
Seorang mukmin memandang Ramadan sebagai kesempatan emas, bukan kewajiban yang memberatkan. Ia bersyukur masih diberi umur untuk sujud, masih diberi waktu memperbaiki amal, dan masih dibukakan pintu taubat.
Rasa syukur inilah yang mengubah ibadah menjadi kenikmatan.
Ukuran Keberhasilan Ramadan
Keberhasilan Ramadan tidak diukur pada kemeriahannya, tetapi pada keberlanjutannya.
Jika setelah Ramadan seseorang:
- lebih menjaga shalat,
- lebih mudah meninggalkan maksiat,
- lebih lembut akhlaknya,
maka itulah tanda Ramadan telah membekas dalam jiwanya.
Ramadan adalah perjalanan menuju takwa.
Bukan sekadar menahan diri selama sebulan, tetapi membangun kendali diri untuk sebelas bulan berikutnya.