Oleh: Ustadz H. Zen Roni
OASE IMAN, ALIMANNEWS.COM – Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ia adalah momentum kembali menata iman, memperbaiki shalat, dan menghidupkan hubungan dengan Al-Qur’an.
Allah menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni agar manusia menjadi bertakwa. Karena itu, puasa tidak boleh berhenti pada aspek fisik, tetapi harus melahirkan perubahan sikap, akhlak, dan kualitas ibadah.
Memperbaiki Shalat, Bukan Sekadar Menambah Rakaat
Ramadan adalah waktu terbaik untuk membenahi shalat:
- Menyempurnakan rukun dan bacaan,
- Tidak tergesa-gesa dalam rukuk dan sujud,
- Menghadirkan hati dalam setiap gerakan.
Shalat yang benar bukan yang paling cepat, tetapi yang paling khusyuk. Dari sinilah seluruh amal menjadi baik, sebab shalat adalah amalan pertama yang dihisab.
Menghidupkan Tradisi Tadarus
Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan hendaknya tidak hanya mengejar khatam, tetapi juga:
- Dibaca dengan tartil dan bimbingan yang benar,
- Dipahami maknanya,
- Diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tadarus yang dilakukan bersama saling memperbaiki bacaan dan menguatkan keimanan. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menuntun hidup setelah Ramadan berlalu.
Al-Qur’an: Penolong atau Pemberat
Ulama mengingatkan, kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an akan menentukan nasibnya kelak. Ia bisa menjadi penolong di akhirat bagi yang menjaganya, atau menjadi saksi bagi yang mengabaikannya.
Karena itu, biasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, menjaga adabnya, dan menjadikannya pedoman hidup, bukan hanya bacaan musiman.
Ramadan Harus Berbekas
Ramadan yang berhasil adalah Ramadan yang meninggalkan jejak:
- Shalat menjadi lebih tertib,
- Lisan lebih terjaga,
- Hati lebih lembut,
- Al-Qur’an tetap dibaca meski Ramadan telah usai.
Ramadan adalah latihan sebulan untuk istiqamah sebelas bulan berikutnya.
Siapa yang kembali dekat dengan shalat dan Al-Qur’an, dialah yang meraih hakikat kemenangan Ramadan. (Foto:ANZ/Ist)