Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Islam Insight

Al-Qur’an Penolong atau Penuntut? Pilihan Ada pada Kita

28
×

Al-Qur’an Penolong atau Penuntut? Pilihan Ada pada Kita

Sebarkan artikel ini
Ustadz H. Zen Roni, Masjid Al-Iman Kota Bekasi. (Foto: Dik/ANC)

Tausiah Ramadhan – Masjid Al-Iman
Oleh Ustadz H. Zen Roni

ALIMANNEWS.COM – Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas antara yang hak dan yang batil. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Al-Qur’an bisa menjadi penolong (syafaat) bagi kita, namun bisa pula menjadi penuntut yang memberatkan, tergantung bagaimana sikap kita terhadapnya. Jika kita membaca, memahami, dan mengamalkannya, ia akan menjadi cahaya dalam kubur, penolong di alam barzakh, dan pemberi syafaat di hari kiamat. Namun jika kita mengabaikannya, ia bisa menjadi saksi atas kelalaian kita.

1. Yakin Sepenuhnya Al-Qur’an dari Allah

Langkah pertama agar Al-Qur’an menjadi penolong adalah menanamkan keyakinan bahwa ia benar-benar wahyu dari Allah SWT, bukan rekayasa manusia. Allah menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:

“Dzalikal kitabu laa raiba fiih, hudan lil muttaqin.”
(Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).

Keyakinan ini bagian dari rukun iman. Tidak ada tempat bergantung dan meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Siapa yang mencari “tuhan-tuhan” selain Allah, maka ia telah menyimpang dari tauhid.

2. Menjadikan Al-Qur’an Sahabat

Al-Qur’an harus kita tempatkan sebagai sahabat terdekat dalam hidup. Pasangan hidup belum tentu bisa menolong di akhirat. Anak, kerabat, dan jabatan pun tidak menjamin keselamatan. Tetapi Al-Qur’an yang kita baca dan amalkan akan membersamai kita hingga akhir hayat.

Bagaimana cara bersahabat dengannya? Dengan membacanya. Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra” (bacalah). Membaca Al-Qur’an harus dengan benar, sesuai tajwidnya. Setiap huruf bernilai pahala, terlebih di bulan Ramadhan yang dilipatgandakan.

Bagi yang sudah bisa membaca, istiqamahlah dan perbaiki bacaan. Bagi yang belum bisa, jangan malu untuk belajar. Menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap Muslim, laki-laki dan perempuan. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

3. Memahami dan Mengamalkan

Tidak cukup hanya membaca. Allah berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 155 bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang diberkahi, maka ikutilah agar kita mendapat rahmat.

Memahami Al-Qur’an memerlukan kerja sama antara akal dan hati. Akal adalah mutiara yang membedakan benar dan salah. Namun hati yang menentukan arah hidup. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, itulah hati.

Allah tidak melihat rupa, harta, atau jabatan kita. Yang Allah lihat adalah amal dan hati kita. Jika setelah membaca Al-Qur’an dan beribadah akhlak kita tidak berubah, berarti ada yang perlu dikoreksi.

4. Al-Qur’an sebagai Jalan Taqwa

Seluruh ibadah—shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an—adalah sarana meraih takwa dan rahmat Allah. Jika ibadah dilakukan dengan benar, ia akan membentuk karakter menjadi lebih baik. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa melatih kesabaran. Al-Qur’an membimbing hati agar tetap lurus.

Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Bacalah, pahami maknanya, renungkan isinya, dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Al-Qur’an menjadi penolong kita di dunia dan akhirat, menjadi cahaya dalam kubur, serta pemberi syafaat di hari kiamat. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *