ISLAM INSIGHT – “Aku menjumpai seorang pemuda yang duduk termenung sambil memandangi foto ibunya yang mulai usang. Matanya berkaca-kaca, lalu perlahan air mata jatuh membasahi pipinya. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik kepada foto itu.
“Ibu… aku sangat merindukanmu. Sekarang aku sudah bekerja, Bu. Aku masih ingat janjiku dulu, bahwa gaji pertamaku akan kuserahkan kepada Ibu. Aku datang membawa janji itu, tapi Ibu sudah tidak ada untuk menerimanya…”
Suasana hening seketika. Hanya isak tangis yang terdengar dari bibirnya yang bergetar.
Aku memberanikan diri mendekat dan bertanya pelan, “Mas, di mana Ibu sekarang?”
Pemuda itu menundukkan kepala lebih dalam. Air matanya semakin deras mengalir. Setelah beberapa saat terdiam, ia menjawab dengan suara yang patah-patah,
“Ibu sudah meninggal… ketika saya sedang merantau ke kota ini untuk mencari pekerjaan. Saat saya berjuang agar bisa membahagiakan beliau, justru beliau pergi lebih dulu. Kini ketika saya berhasil mendapatkan pekerjaan dan menerima gaji pertama, orang yang paling ingin saya bahagiakan sudah tidak lagi berada di dunia ini.”
Saat itu aku menyadari, ada rindu yang tak akan pernah terobati. Ada penyesalan yang tak bisa diputar kembali. Sebab tidak semua anak terlambat mencintai ibunya, tetapi terkadang waktu lebih cepat memisahkan mereka sebelum sempat membalas semua pengorbanan dan kasih sayang yang telah diberikan. ❤️
“Jika Ibumu masih ada hari ini, peluklah beliau. Karena suatu saat nanti, yang mungkin tersisa hanyalah foto, kenangan, dan air mata kerinduan yang tak lagi bisa disampaikan.”





