ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHT — Umat Islam diingatkan untuk tidak melemahkan semangat ibadah pada penghujung bulan suci Ramadan. Justru pada detik-detik terakhir inilah pahala amal ibadah dilipatgandakan dan setiap kebaikan dicatat sebagai bekal kehidupan akhirat.
Pesan tersebut disampaikan ustadz terpandang di Kota Baru, H. Jaenudin dalam tausiyahnya di hadapan jamaah Masjid Al-Iman, Kota Baru, Kota Bekasi.
Menurutnya, malam-malam akhir Ramadan merupakan momentum spiritual yang sangat berharga bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah sekaligus berharap meraih kemuliaan Lailatul Qadar.
“Ibadah yang kita lakukan pada malam-malam akhir Ramadan akan dicatat oleh Allah dan kelak menjadi bukti di padang mahsyar,” ujarnya.
Tiga Fase Spiritualitas Ramadan
Dalam tausiyahnya, Ustadz Jaenudin menjelaskan bahwa para ulama membagi perjalanan spiritual Ramadan ke dalam tiga fase utama. Sepuluh hari pertama merupakan fase turunnya rahmat Allah, sepuluh hari kedua adalah masa ampunan, sedangkan sepuluh hari terakhir menjadi masa pembebasan dari api neraka.
Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan dianjurkan untuk diisi dengan berbagai ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta berdzikir.
Al-Qur’an Sebagai Cahaya Hati
Ia menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada malam-malam akhir Ramadan. Dalam ajaran Islam, Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, tetapi juga cahaya yang menerangi hati dan kehidupan manusia.
Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an, kata dia, akan dicatat sebagai amal kebaikan dan kelak menjadi saksi bagi pembacanya di hadapan Allah SWT.
Namun demikian, ia mengingatkan agar umat Islam tidak berkecil hati jika belum mampu membaca Al-Qur’an dengan sempurna.
“Bacalah semampu kita. Jika belum lancar, teruslah belajar. Setiap usaha mendekatkan diri kepada Al-Qur’an bernilai ibadah di sisi Allah,” pesannya.
Dzikir dan Selawat sebagai Penerang Kubur
Selain membaca Al-Qur’an, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak dzikir dan selawat. Kalimat-kalimat thayyibah seperti tasbih, tahmid, dan takbir diyakini mampu membersihkan hati sekaligus menghadirkan ketenangan spiritual.
Dalam tradisi keilmuan Islam, dzikir yang dilakukan dengan keikhlasan akan menghadirkan nur al-qalb, yakni cahaya iman dalam hati yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT.
Cahaya tersebut diyakini tidak hanya menerangi kehidupan di dunia, tetapi juga menjadi penerang bagi manusia di alam kubur.
Meneladani Ibadah Rasulullah
Ustadz Jaenudin juga mengingatkan teladan Nabi Muhammad SAW dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi semakin meningkatkan ibadahnya pada masa tersebut, bahkan membangunkan keluarganya untuk turut beribadah.
Karena itu, ia mengajak jamaah agar tidak justru disibukkan dengan urusan dunia menjelang Idulfitri hingga melalaikan ibadah pada akhir Ramadan.
Doa untuk Keluarga dan Generasi Mendatang
Di akhir tausiyahnya, jamaah diajak memanjatkan doa agar Allah senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan hidup, serta keturunan yang saleh dan salehah.
Ia juga mengajak jamaah mendoakan para ulama, orang tua, dan kerabat yang telah wafat agar diampuni dosa-dosanya serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dan meraih keberkahan Lailatul Qadar,” tutupnya.