ALIMANNEWS.COM, JAKARTA — Bin Zayed International (BZI) merupakan konglomerat investasi global asal Uni Emirat Arab (UEA) yang didirikan pada 1988 oleh Sheikh Khaled Zayed Saquer Zayed Al Nahyan. Perusahaan ini dikenal berfokus pada investasi jangka panjang dan pengembangan di berbagai sektor strategis.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui PAM JAYA memperkuat langkah strategis dalam menjamin ketersediaan air bersih berkelanjutan bagi warga dengan menjajaki kerja sama bersama BZI, yang memiliki portofolio di sektor properti, energi, konstruksi, teknologi informasi, hingga infrastruktur.
Langkah konkret kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan non-disclosure agreement (NDA) antara kedua pihak di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (27/4/2026). Kesepakatan awal ini membuka ruang pertukaran data, kajian teknis, serta pembahasan lebih mendalam terkait potensi pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Jakarta.
Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi untuk menjawab tantangan layanan air bersih di ibu kota, sekaligus mengejar target cakupan layanan 100 persen.
“Arahan Gubernur dan Wakil Gubernur jelas, pemenuhan layanan dasar harus dilakukan secara serius, terukur, dan terbuka terhadap kolaborasi. Untuk mencapai layanan 100 persen, kami perlu bermitra dengan pihak yang memiliki kapasitas, teknologi, serta komitmen jangka panjang,” ujarnya.
Penjajakan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara pihak BZI dengan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balai Kota. Pertemuan tersebut membuka komunikasi awal terkait potensi kerja sama strategis, khususnya dalam pengembangan infrastruktur dasar dan layanan perkotaan di Jakarta.
Arief menjelaskan, tantangan yang dihadapi PAM JAYA tidak hanya memperluas cakupan layanan, tetapi juga menekan tingkat kehilangan air atau non-revenue water (NRW). Kondisi ini semakin kompleks mengingat karakter Jakarta sebagai kota padat dengan jaringan infrastruktur bawah tanah yang dinamis.
“Pengurangan NRW menjadi pekerjaan besar. Kepadatan bangunan, kompleksitas utilitas, serta kebutuhan air yang terus meningkat membuat tantangan ini tidak sederhana. Karena itu, kolaborasi internasional menjadi penting, baik untuk dukungan teknologi, investasi, maupun pengalaman,” jelasnya.
Selain fokus pada pengembangan SPAM, BZI juga menyatakan ketertarikan terhadap proyek infrastruktur strategis lain di Jakarta, termasuk potensi keterlibatan dalam pembangunan Giant Sea Wall sebagai bagian dari upaya perlindungan pesisir dan transformasi Jakarta menuju kota global.
Arief menegaskan, penandatanganan NDA bukan sekadar formalitas, melainkan tahap awal untuk memastikan setiap proses kerja sama berjalan profesional, transparan, dan berbasis kajian matang.
“PAM JAYA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta kepentingan warga sebagai prioritas utama dalam setiap rencana kerja sama,” tegasnya.
Sebagai bagian dari penguatan strategi global, PAM JAYA sebelumnya juga menjalin komunikasi dengan sejumlah negara, termasuk Turki dan Swiss, guna membuka peluang kolaborasi, pertukaran pengetahuan, serta pemanfaatan teknologi terbaru dalam meningkatkan kualitas layanan air bersih di Jakarta. (diks/alnews)





