Oleh Ustadz H. Sahidi Abdurrosyid S. Ag.
Masjid Al-Iman
ALIMANNEWS.COM – Ramadhan bukanlah waktu yang sama dengan bulan-bulan lainnya. Secara lahiriah, siang dan malamnya tampak serupa dengan hari biasa. Namun yang membedakan adalah nilai dan keberkahannya di sisi Allah SWT. Inilah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan penuh ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka.
Waktunya singkat—hanya beberapa hari—tetapi pahalanya berlipat ganda. Ibarat perniagaan, modalnya kecil namun keuntungan yang dijanjikan sangat besar. Karena itu, memasuki 10 hari kedua Ramadhan, semangat jangan sampai menurun. Justru harus semakin kuat hingga puncaknya di 10 hari terakhir, saat hadir malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul Qadar.
Kebahagiaan seorang mukmin bukan terletak pada banyaknya rumah, kendaraan, atau harta. Bukan pula pada kemewahan dunia. Salah satu kebahagiaan terbesar adalah ketika Allah menganugerahkan kecintaan kepada Al-Qur’an—gembira membacanya, ringan mengkhatamkannya, dan bersemangat mengamalkannya.
Ramadhan juga melatih kesabaran: sabar menahan lapar, sabar menjaga lisan, dan sabar dalam ketaatan. Rasulullah SAW dan para sahabat memberi teladan dengan berlomba-lomba dalam sedekah. Ada yang berinfak secara sembunyi-sembunyi demi menjaga keikhlasan, ada pula yang terang-terangan untuk memberi teladan. Yang terpenting bukan caranya, tetapi niatnya—ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji.
Keimanan yang kuat melahirkan ketenangan dalam menghadapi ujian. Hal ini tergambar dalam kisah Hajar (Siti Hajar). Ketika ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah tandus bersama putranya, awalnya ia bertanya-tanya dan tidak mendapat jawaban. Namun ketika ia mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah, hatinya menjadi tenang. Keyakinannya kepada Allah mengalahkan rasa cemasnya.
Dari situlah lahir pelajaran besar tentang iman dan tawakal. Kepercayaan penuh kepada Allah menghadirkan keteguhan dan ketenteraman, meski secara lahiriah keadaan tampak sulit.
Karena itu, Ramadhan adalah momentum memperkuat iman, memperbanyak amal, dan memperdalam ketergantungan kepada Allah. Jangan biarkan rasa malas atau jenuh mengurangi kualitas ibadah. Waktu ini terbatas, belum tentu kita bertemu Ramadhan berikutnya.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjaga semangat, menguatkan iman, dan meraih keberkahan Ramadhan hingga akhir. Aamiin.