ALIMANNEWS.COM, JAKARTA – Perbedaan pandangan mengenai awal Ramadan 1447 Hijriah kembali mencuat seiring penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah. Organisasi ini menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menjadikan KHGT sebagai metode resmi penentuan kalender Islam.
Pakar falak Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, menjelaskan bahwa KHGT mengacu pada prinsip kesatuan waktu Islam secara global dengan parameter astronomis yang terukur. Salah satu syarat utamanya adalah hilal telah berada di atas ufuk minimal 5 derajat dengan elongasi 8 derajat di wilayah mana pun di bumi setelah ijtimak.
Dalam kasus awal Ramadan tahun ini, parameter tersebut terpenuhi di wilayah Alaska, sehingga secara metodologis telah menandai masuknya bulan baru. Karena KHGT bersifat global, keterpenuhan kriteria di satu lokasi dianggap berlaku untuk seluruh dunia.
Sementara itu, kondisi di Indonesia menunjukkan hilal masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam, sehingga belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama RI. Pemerintah diperkirakan menetapkan awal Ramadan sehari setelahnya, menunggu hasil rukyat dan sidang isbat.
Muhammadiyah menegaskan bahwa perbedaan ini bersifat teknis-metodologis, bukan perbedaan akidah. Ragam masukan terhadap KHGT dipandang sebagai bagian dari proses ijtihad dan pengembangan sistem kalender Islam yang lebih terpadu, ilmiah, dan berjangka panjang bagi kemaslahatan umat.