ALIMANNEWS.COM, JAKARTA — Muhammadiyah memperkuat kemandirian sektor kesehatan dengan menyiapkan pembangunan pabrik cairan infus melalui entitas bisnisnya, PT Suryavena Farma Indonesia.
Pabrik yang akan dibangun di Karangploso, Jawa Timur, ini berdiri di atas lahan seluas 14 hektare dengan kapasitas produksi mencapai 15 juta botol per tahun. Sebagian besar produksi akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal jaringan rumah sakit dan klinik Muhammadiyah.
Informasi tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat berada di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (18/4).
Muhadjir menjelaskan, peletakan batu pertama (groundbreaking) dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026 di Mojokerto. Proyek ini ditargetkan rampung sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-49, dan mulai beroperasi penuh pada akhir 2027 atau awal 2028.
Pabrik infus ini direncanakan menggunakan alat dan teknologi dari Italia. Pemilihan teknologi tersebut didasarkan pada pertimbangan kualitas serta daya tahan yang dinilai lebih unggul, sehingga diharapkan mampu menunjang efisiensi dan standar produksi yang tinggi.
Muhadjir menambahkan, meskipun investasi teknologi ini cukup besar, manfaat jangka panjangnya dinilai sepadan dengan kualitas produk yang dihasilkan.
Ke depan, pabrik ini tidak hanya memproduksi cairan infus, tetapi juga alat kesehatan seperti jarum medis dan berbagai produk sekali pakai lainnya. Namun, tahap awal belum mencakup produksi obat-obatan.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi Muhammadiyah dalam membangun sistem ekonomi internal yang terintegrasi, seiring tingginya kebutuhan layanan kesehatan. Saat ini, Muhammadiyah memiliki sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik.
“Daripada membeli dari luar, lebih baik kita produksi sendiri agar bisa menekan biaya operasional rumah sakit Muhammadiyah. Kita ingin membangun sistem close loop di seluruh amal usaha,” ujar Muhadjir.
Dalam aspek pembiayaan, proyek ini akan menggunakan skema investasi berbasis saham dari jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Meski menggunakan teknologi berbiaya tinggi, Muhammadiyah menargetkan harga produk tetap kompetitif.
Hal ini sejalan dengan semangat bisnis Persyarikatan yang berorientasi pada kemaslahatan, bukan semata keuntungan.
“Kita sudah hitung dengan matang agar harga tetap terjangkau dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Pembangunan pabrik ini menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam mengurangi ketergantungan pada pihak luar, sekaligus memperkuat kontribusi di industri farmasi nasional berbasis kebutuhan umat dan masyarakat luas. (Diks/AlNews)





