ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHT – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Di balik kemudahan yang ditawarkan internet, kecerdasan buatan (AI), dan media sosial, tersimpan ancaman serius terhadap karakter, daya kritis, hingga spiritualitas generasi muda.
Pesan tersebut disampaikan Dr. KH. Muhammad Hariyadi, M.A. dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang mengajak umat Islam menjadikan ketakwaan sebagai fondasi utama menghadapi derasnya arus digitalisasi.
Menurutnya, era digital telah menghapus batas antara dunia nyata dan dunia maya. Kehidupan manusia kini berada dalam ekosistem digital yang dikendalikan algoritma dan kecerdasan buatan, sehingga memengaruhi cara berpikir, memperoleh informasi, hingga mengambil keputusan.
“Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Manusia tidak boleh kehilangan kendali atas akal sehat dan nilai-nilai agama karena dominasi ruang digital.”
Generasi Muda Paling Rentan
KH. Muhammad Hariyadi menilai generasi muda merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif dunia maya. Proses perkembangan psikologis dan kognitif yang belum matang membuat mereka mudah terpapar berbagai narasi digital tanpa kemampuan menyaring informasi secara kritis.
Fenomena hyperconnectivity atau keterhubungan tanpa batas melalui gawai telah melahirkan ketergantungan digital. Aktivitas belajar, berkomunikasi, bertransaksi, hingga mencari hiburan seluruhnya bergantung pada perangkat elektronik.
Akibatnya, budaya serba instan, konsumtif, dan pencarian popularitas perlahan menggantikan budaya kerja keras, kesabaran, serta kedalaman berpikir.
Dampak Degradasi Multidimensi
Dalam pandangannya, digitalisasi memang membawa kemajuan besar bagi ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun tanpa pengendalian moral, dampak negatifnya dapat memicu degradasi pada berbagai level kehidupan.
Pada tingkat individu, muncul berbagai persoalan seperti menurunnya daya kritis, meningkatnya kemalasan (mager), plagiarisme, depresi, hingga hilangnya orientasi hidup.
Di tingkat sosial, masyarakat menjadi semakin individualistis, berkurang rasa empati, melemahnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta menurunnya kualitas kehidupan spiritual.
Sementara pada level kebangsaan, rendahnya kualitas sumber daya manusia berpotensi memicu disorientasi dalam kehidupan berbangsa, mudah terprovokasi informasi palsu, serta kehilangan jati diri akibat derasnya arus globalisasi budaya.
Solusi Holistik Berbasis Nilai Islam
Sebagai solusi, KH. Muhammad Hariyadi menawarkan pendekatan holistik-integratif yang melibatkan individu, masyarakat, dan negara secara bersamaan.
Pada tingkat individu, ia mendorong pembentukan atomic habits, yaitu kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten melalui aktivitas fisik, sosial, intelektual, dan spiritual. Kebiasaan tersebut diyakini mampu mengatasi kemalasan, mengurangi isolasi mental, sekaligus memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Ia mengingatkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 36 yang menegaskan pentingnya menggunakan ilmu dan akal secara bertanggung jawab serta tidak mengikuti sesuatu tanpa dasar pengetahuan.
Membangun Modal Sosial
Pada level masyarakat, generasi muda perlu diperkuat dengan modal sosial melalui keterlibatan aktif dalam lingkungan keluarga, masjid, sekolah, organisasi, maupun komunitas.
Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan diyakini mampu menjadi benteng dari berbagai persoalan sosial seperti depresi, keputusasaan, dan hilangnya harapan terhadap masa depan.
Perubahan, tegasnya, tidak akan terjadi tanpa usaha nyata. Hal itu sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Peran Strategis Negara
Sementara pada level negara, pemerintah diharapkan menghadirkan kebijakan yang mampu melindungi generasi muda dari dampak negatif internet, termasuk melalui pengawasan akses digital bagi anak-anak dan remaja.
Lebih dari itu, negara perlu membangun ekosistem pendidikan yang memperkuat karakter, kompetensi, kreativitas, kepedulian sosial, dan kepercayaan diri generasi muda agar mampu bersaing tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan.
Kolaborasi Menjadi Kunci
KH. Muhammad Hariyadi menegaskan bahwa menyelamatkan generasi dari ancaman dunia maya bukan hanya tanggung jawab keluarga atau pemerintah semata, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa.
Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2 yang memerintahkan umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Di tengah derasnya arus transformasi digital, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjauhi teknologi, tetapi mengarahkan agar teknologi dimanfaatkan sebagai sarana kemaslahatan. Ketika kemajuan ilmu pengetahuan dipadukan dengan ketakwaan, teknologi akan menjadi instrumen pembangunan peradaban, bukan penyebab kemunduran moral.
Dengan demikian, masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang mereka kuasai, tetapi terutama oleh kokohnya iman, kematangan akhlak, serta kemampuan berpikir kritis yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.






