Berita

Dapat Penghargaan, Haedar Nashir: Jalan Sunyi Muhammadiyah adalah Jalan Pengabdian untuk Bangsa

37
×

Dapat Penghargaan, Haedar Nashir: Jalan Sunyi Muhammadiyah adalah Jalan Pengabdian untuk Bangsa

Sebarkan artikel ini
Haedar Nasir dalam Ramah Tamah yang merupakan bagian dari rangkaian Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 pada Selasa (25/8) di Bakrie Tower, Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Ist

JAKARTA, ALIMANNEWS.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir memaknai Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 Bidang Pemikiran Sosial bukan semata sebagai penghargaan pribadi, melainkan apresiasi terhadap perjalanan pengabdian Muhammadiyah bagi masyarakat dan bangsa.

Refleksi tersebut disampaikan Haedar dalam acara Ramah Tamah rangkaian Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 di Bakrie Tower, Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2026).

Haedar mengatakan, kiprah Muhammadiyah selama ini banyak berlangsung dalam ruang yang jauh dari sorotan. Namun, kerja untuk membebaskan, memberdayakan, memajukan, dan mendampingi masyarakat merupakan bagian dari perjuangan mewujudkan Islam Berkemajuan.

“Saya memang bergerak di bidang akademik, tapi lebih banyak di Muhammadiyah, mengurus Muhammadiyah yang itu jalan sunyi sebenarnya,” ujar Haedar.

Menurutnya, istilah jalan sunyi tidak berarti pengabdian tersebut tidak memiliki arti. Sebaliknya, kerja-kerja sosial yang dilakukan secara konsisten justru menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan masyarakat.

“Jalan sunyi itu sedikit yang bisa berkiprah membebaskan, memberdayakan, memajukan, mendampingi masyarakat untuk maju sebagaimana spirit kami, Islam Berkemajuan,” katanya.

Haedar mengaku sempat terkejut ketika ditetapkan sebagai penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026. Saat keputusan tersebut disampaikan kepadanya di Yogyakarta, ia bahkan sempat mempertanyakan apakah penghargaan tersebut diberikan kepada orang yang tepat.

“Dengan kerendahan hati saya merasa, sebenarnya apa tidak salah alamat,” ungkapnya.

Haedar menilai penghargaan tersebut tidak sepatutnya dimaknai sebagai capaian personal. Baginya, apresiasi itu juga merefleksikan kontribusi Muhammadiyah dalam perjalanan sosial dan kebangsaan Indonesia.

“Tidak ada yang saya pikirkan selain bahwa penghargaan itu tidak secara pribadi, tapi juga penghargaan terhadap kami, Muhammadiyah, untuk bangsa,” tuturnya.

Ia juga melihat terdapat kesamaan semangat dalam tradisi Penghargaan Achmad Bakrie. Menurut Haedar, keluarga almarhum Achmad Bakrie telah menunjukkan perhatian terhadap ilmuwan dan pemikir dari berbagai disiplin yang kerap bekerja tanpa banyak mendapat sorotan publik.

“Saya yakin keluarga almarhum Achmad Bakrie untuk memberi penghargaan kepada ilmuwan di berbagai bidang itu merupakan suatu jalan sunyi juga,” ujarnya.

Bagi Haedar, kemajuan Indonesia tidak hanya lahir dari pekerjaan yang terlihat di ruang publik. Pengabdian intelektual, spiritual, dan sosial yang dilakukan secara tekun juga memiliki peran besar dalam membangun bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar mengenang perhatian Aburizal Bakrie terhadap tradisi pertanggungjawaban organisasi ‘Aisyiyah. Ia menceritakan bagaimana ‘Aisyiyah dikenal memberikan laporan pertanggungjawaban secara rinci ketika menerima bantuan.

Menurut Haedar, tradisi tersebut mencerminkan prinsip penting dalam kehidupan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, yakni setiap amanah harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.

“Itu bentuk dari tradisi kami untuk bertanggung jawab bukan hanya kepada Allah, tapi juga kepada masyarakat,” tegasnya.

Haedar berharap penghargaan yang diterimanya dapat menjadi simbol penghargaan bagi seluruh pihak yang selama ini memilih bekerja dalam kesunyian demi kepentingan masyarakat.

“Mudah-mudahan ini juga menjadi penghargaan bagi Muhammadiyah, untuk masyarakat, bangsa, dan untuk Indonesia,” pungkas Haedar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *