Berita

Menag Optimistis Indonesia Bebas Buta Huruf Al-Qur’an dalam Tiga Tahun

79
×

Menag Optimistis Indonesia Bebas Buta Huruf Al-Qur’an dalam Tiga Tahun

Sebarkan artikel ini
Menteri Agama Nasaruddin Umar 10.000 guru ngaji yang akan menjadi bagian dari gerakan pembelajaran Al-Qur’an di berbagai daerah. (Foto: Ist)

JAKARTA, ALIMANNEWS.COM – Menteri Agama Nasaruddin Umar optimistis Indonesia dapat terbebas dari buta huruf Al-Qur’an dalam tiga tahun. Optimisme tersebut disampaikan saat mengukuhkan 10.000 guru Al-Qur’an sebagai bagian dari gerakan memperluas pembelajaran Al-Qur’an di berbagai daerah.

Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin dalam Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Menag mengatakan, keberadaan 10.000 guru Al-Qur’an menjadi kontribusi konkret masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan umat Islam.

“Menurut data statistik, masih ada kurang lebih 60 persen warga umat Islam Indonesia yang buta huruf Al-Qur’an. Kementerian Agama tidak bisa menyelesaikan sendiri urusan besar seperti ini. Di sinilah peran ormas-ormas Islam,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an oleh Wahdah Islamiyah dapat memperluas jangkauan pendidikan Al-Qur’an sekaligus mempercepat upaya pemberantasan buta huruf Al-Qur’an.

“Kontributor yang paling konkret adalah Wahdah Islamiyah menyumbangkan 10.000 pembebas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia,” katanya.

Nasaruddin kemudian membuat simulasi sederhana mengenai potensi kontribusi para guru tersebut. Jika setiap guru mampu membantu 10 orang terbebas dari buta huruf Al-Qur’an, maka terdapat sekitar 100.000 orang yang dapat memperoleh manfaat pembelajaran.

Ia memperkirakan proses pengenalan huruf Al-Qur’an dapat dilakukan dalam waktu sekitar tiga bulan sehingga gerakan tersebut, jika berjalan konsisten dan meluas, diyakini mampu memberikan dampak signifikan dalam beberapa tahun.

“10 ribu guru kali 10 murid. Dalam tempo insyaallah paling lambat belajar huruf Al-Qur’an tiga bulan. Saya yakin insyaallah dalam tempo tiga tahun Indonesia akan bebas daripada buta huruf Al-Qur’an,” ungkapnya.

Namun, Menag menegaskan tugas guru Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan teknis membaca. Pendidikan Al-Qur’an juga harus menyentuh pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik.

“Guru Al-Qur’an tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik.”

Karena itu, ia berharap para guru mampu membangun kedekatan dengan murid dan menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita tidak hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi kita juga berharap semoga para guru ini berhasil menembus batin-batin para muridnya sebagai seorang guru,” tutur Nasaruddin.

Selain pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, Nasaruddin mengajak para guru turut menjaga karakter Indonesia sebagai bangsa yang moderat.

Menurutnya, moderasi beragama tidak semestinya dipertentangkan dengan penguatan nilai-nilai syariah dan kehidupan religius masyarakat.

“Mari kita merawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Moderat itu jangan dipertentangkan dengan kekuatan syariah kita, kekuatan religi kita.”

Nasaruddin menegaskan, Indonesia memiliki karakter yang memungkinkan nilai religius dan moderasi berjalan berdampingan dalam kehidupan berbangsa.

“Negara religi atau negara moderat, itu jangan dipertentangkan. Indonesia menggabungkan keduanya,” katanya.

Dengan dukungan pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, guru ngaji, dan masyarakat, gerakan pembelajaran Al-Qur’an diharapkan semakin luas sehingga kemampuan membaca Al-Qur’an tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga diikuti penguatan karakter generasi Muslim Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *