Scroll untuk baca artikel
Example 300x300
Example 728x250
Oase Iman

Ustadz Zen Roni: “Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar”

44
×

Ustadz Zen Roni: “Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar”

Sebarkan artikel ini
Ustadz H. Zen Roni (Foto: ANZ/Ist)

Momentum Tazkiyatun Nafs dan Peningkatan Amal

Oleh: Ustadz H. Zen Roni

OASE IMAN, ALIMANNEWS.COM – Ramadan hadir bukan hanya sebagai bulan ibadah ritual, tetapi sebagai madrasah ruhani untuk membentuk manusia bertakwa. Puasa yang disyariatkan Islam tidak berhenti pada menahan makan dan minum, melainkan melatih pengendalian diri secara menyeluruh: lisan, hati, pikiran, dan perilaku.

Promo untuk Anda
Example 300x300
Promo server terbaik

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menjadi parameter utama: puasa dinilai dari perubahan takwa, bukan sekadar perubahan pola makan.

Puasa: Ibadah yang Menghidupkan Kesadaran

Secara fikih, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga maghrib. Namun secara hakikat, para ulama menjelaskan bahwa makna shaum adalah menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Isyarat ini tampak pula dalam Surah Maryam ayat 26, ketika kata shaum dimaknai sebagai menahan diri, termasuk dari berbicara.

Karena itu, orang yang hanya menahan lapar tetapi tetap berdusta, mencela, atau menyakiti sesama, belum memahami ruh puasa. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan haus.

Ramadan: Bulan Peningkatan, Bukan Sekadar Penahanan

Ramadan justru menjadi waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah:

  • Memperbaiki shalat wajib, karena itulah amal pertama yang dihisab.
  • Menghidupkan shalat sunnah, seperti tarawih dan qiyamul-lail, sebagai penyempurna kekurangan.
  • Memperbanyak tilawah Al-Qur’an, sebab Ramadan adalah bulan diturunkannya wahyu.
  • Menjaga akhlak, menahan amarah, memperbanyak sabar, dan memperhalus hubungan dengan sesama.

Puasa yang benar melahirkan kelembutan, bukan kemarahan; melahirkan kejujuran, bukan kepura-puraan.

Ibadah Adalah Kehormatan, Bukan Beban

Seorang mukmin memandang Ramadan sebagai kesempatan emas, bukan kewajiban yang memberatkan. Ia bersyukur masih diberi umur untuk sujud, masih diberi waktu memperbaiki amal, dan masih dibukakan pintu taubat.

Rasa syukur inilah yang mengubah ibadah menjadi kenikmatan.

Ukuran Keberhasilan Ramadan

Keberhasilan Ramadan tidak diukur pada kemeriahannya, tetapi pada keberlanjutannya.
Jika setelah Ramadan seseorang:

  • lebih menjaga shalat,
  • lebih mudah meninggalkan maksiat,
  • lebih lembut akhlaknya,

maka itulah tanda Ramadan telah membekas dalam jiwanya.


Ramadan adalah perjalanan menuju takwa.
Bukan sekadar menahan diri selama sebulan, tetapi membangun kendali diri untuk sebelas bulan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *