Islam Insight

Kisah Umar bin Abdul Aziz yang Menginspirasi Antikorupsi

alnews_online
65
×

Kisah Umar bin Abdul Aziz yang Menginspirasi Antikorupsi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi di ambil dari film OMAR "Umar bin ‘Abdul ‘Aziz" telah memberikan keteladanan pada kita bahwa integritas sejati lahir dari keberanian untuk menarik garis tegas antara hak pribadi dan fasilitas negara/publik, bahkan dalam perkara yang dianggap sepele seperti tenaga seekor keledai atau cahaya sebuah lampu.

ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHT — Dalam sejarah peradaban Islam, nama Umar bin Abdul Aziz selalu dikenang sebagai sosok pemimpin yang berhasil memadukan kekuasaan, keilmuan, dan ketakwaan. Beliau bukan hanya seorang khalifah yang memimpin Daulah Umayyah, tetapi juga seorang ulama, ahli hadis, mujtahid, dan pribadi yang dikenal memiliki integritas luar biasa.

Di tengah kehidupan modern yang masih dihadapkan pada berbagai persoalan penyalahgunaan jabatan, korupsi, dan konflik kepentingan, keteladanan Umar bin Abdul Aziz tetap relevan untuk dijadikan cermin. Integritas yang beliau tunjukkan tidak dibangun melalui pidato atau slogan, melainkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Wara’: Benteng Integritas Seorang Pemimpin

Salah satu karakter paling menonjol dari Umar bin Abdul Aziz adalah sifat wara’, yaitu kehati-hatian dalam menjauhi segala sesuatu yang haram maupun syubhat (perkara yang meragukan hukumnya).

Bagi beliau, menjaga amanah tidak hanya berarti menghindari korupsi dalam jumlah besar, tetapi juga memastikan bahwa tidak ada sedikit pun hak publik yang digunakan untuk kepentingan pribadi.

Prinsip tersebut tampak dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya tentang perjalanan hidup Umar bin Abdul Aziz.

Suatu hari, sang khalifah ingin menikmati madu, makanan yang memang sangat beliau sukai. Karena di rumah tidak tersedia madu, istrinya meminta seorang pelayan membelinya menggunakan uang pribadi keluarga. Namun, pelayan itu pergi membeli madu dengan menunggang keledai yang biasa dipakai untuk mengantarkan surat-surat negara.

Ketika mengetahui hal tersebut, Umar bin Abdul Aziz justru merasa bersalah. Menurutnya, meskipun madu dibeli dengan uang pribadi, proses pembeliannya telah memanfaatkan fasilitas milik negara.

Beliau kemudian menjual kembali madu tersebut, mengembalikan harga pembeliannya kepada keluarga, sedangkan keuntungan dari penjualan itu diserahkan ke baitul mal sebagai hak kaum Muslimin.

Bagi sebagian orang, persoalan itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi Umar bin Abdul Aziz, menggunakan tenaga seekor keledai milik negara demi kepentingan pribadi merupakan bentuk pelanggaran amanah yang tidak boleh dibiarkan.

Hadiah yang Bisa Berubah Menjadi Suap

Integritas Umar bin Abdul Aziz juga tampak dari sikapnya terhadap hadiah.

Dalam sebuah riwayat, beliau pernah menginginkan buah apel. Mengetahui hal tersebut, salah seorang kerabatnya mengirimkan apel sebagai hadiah.

Setelah apel itu sampai di hadapannya, Umar memuji aroma dan kelezatannya. Namun beliau meminta agar hadiah tersebut dikembalikan kepada pengirimnya, disertai ucapan terima kasih.

Ketika seorang pembantunya mengingatkan bahwa Rasulullah SAW menerima hadiah, Umar memberikan jawaban yang sangat mendalam.

Beliau berkata bahwa hadiah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW benar-benar merupakan hadiah, sedangkan hadiah kepada seorang pejabat atau penguasa sangat mungkin berubah menjadi bentuk suap atau upaya mencari keuntungan.

Pandangan ini menunjukkan betapa beliau memahami bahwa seorang pemimpin harus menjaga jarak dari segala bentuk konflik kepentingan.

Lampu Negara dan Lampu Pribadi

Keteladanan lain yang sering dikutip para ulama adalah kebiasaan Umar bin Abdul Aziz ketika bekerja pada malam hari.

Beliau hanya menyalakan lampu yang dibiayai negara saat membahas urusan pemerintahan atau kepentingan umat. Ketika pembicaraan bergeser menjadi urusan keluarga atau kepentingan pribadi, lampu negara dipadamkan dan diganti dengan lampu yang menggunakan minyak dari harta pribadinya.

Peristiwa sederhana ini mengandung pesan moral yang sangat besar.

Batas antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi harus dijaga dengan jelas. Tidak boleh ada fasilitas negara yang digunakan untuk kepentingan individu, sekalipun nilainya sangat kecil.

Korupsi Berawal dari Hal-Hal yang Dianggap Sepele

Kisah-kisah Umar bin Abdul Aziz mengajarkan bahwa korupsi tidak selalu dimulai dari penyalahgunaan anggaran bernilai miliaran rupiah.

Korupsi sering lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap lumrah: menggunakan kendaraan dinas untuk urusan pribadi, memanfaatkan fasilitas kantor di luar kepentingan pekerjaan, menerima hadiah karena jabatan, atau menganggap wajar penggunaan aset negara tanpa izin.

Ketika penyimpangan kecil dinormalisasi, maka batas antara amanah dan penyalahgunaan kekuasaan akan semakin kabur.

Karena itu, integritas tidak cukup hanya diukur dari besar kecilnya kerugian negara, tetapi dari kesadaran moral seseorang untuk menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepadanya.

Relevan bagi Indonesia Hari Ini

Indonesia terus berupaya membangun budaya antikorupsi melalui penegakan hukum, pendidikan, dan penguatan integritas aparatur negara. Namun, upaya tersebut tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan regulasi.

Integritas harus tumbuh dari hati dan keyakinan bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa pemimpin yang bersih bukanlah mereka yang sekadar tidak mengambil uang negara, melainkan mereka yang memiliki rasa takut menggunakan sesuatu yang bukan haknya.

Nilai inilah yang perlu dihidupkan kembali, baik oleh pejabat publik, aparatur negara, maupun setiap individu dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, keteladanan Umar bin Abdul Aziz mengajarkan bahwa membangun bangsa yang bebas korupsi dimulai dari keberanian menarik garis yang tegas antara hak pribadi dan hak publik. Sebab amanah bukan hanya tentang apa yang diambil secara melawan hukum, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

Integritas sejati lahir ketika seseorang tetap jujur, meski tidak ada yang melihatnya. Dan sejarah telah membuktikan, nama Umar bin Abdul Aziz dikenang bukan karena lamanya memimpin, melainkan karena bersihnya amanah yang beliau jaga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *