Scroll untuk baca artikel
Berita

Dosen IPB Ungkap Bahaya Parasit pada Sushi dan Sashimi

55
×

Dosen IPB Ungkap Bahaya Parasit pada Sushi dan Sashimi

Sebarkan artikel ini
Sushi ilustrasi. Ist

ALIMANNEWS.COM – BOGOR – Viral sebuah video yang memperlihatkan dugaan seekor parasit keluar dari potongan sashimi di sebuah restoran sushi di Hong Kong memicu kekhawatiran publik terkait keamanan konsumsi ikan mentah. Menanggapi kejadian tersebut, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Karina Rahmadia Ekawidyani, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih makanan berbahan ikan mentah.

Dalam video yang beredar, seorang pelanggan mengaku menemukan cacing berbentuk linear yang merayap keluar dari potongan ikan kinmedai saat hendak memotret hidangannya. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada otoritas keamanan pangan setempat dan menjadi perhatian luas di media sosial.

Menurut dr Karina, konsumsi ikan mentah memang memiliki risiko kesehatan apabila bahan baku dan proses pengolahannya tidak memenuhi standar keamanan pangan. Ikan mentah berpotensi mengandung berbagai jenis parasit yang dapat menginfeksi manusia.

“Ikan mentah dapat menjadi media penularan berbagai jenis parasit seperti cacing pita (Diphyllobothrium spp), nematoda, trematoda, maupun protozoa yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan,” jelasnya.

Ia menerangkan, infeksi parasit akibat konsumsi ikan mentah dapat memicu gangguan saluran pencernaan yang muncul dalam rentang waktu satu hingga 14 hari setelah makanan dikonsumsi. Gejalanya bervariasi, mulai dari mual, muntah, diare, nyeri perut, pusing, hingga demam dan menggigil.

Pada kasus yang lebih berat atau berlangsung dalam jangka panjang, infeksi parasit dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih serius.

“Dalam kasus kronis, infeksi ini dapat menyebabkan anemia, penurunan berat badan, defisiensi vitamin B12, serta peradangan pada saluran empedu (kolangitis) atau pankreas (pankreatitis),” ujarnya.

Karina menjelaskan bahwa risiko tersebut sebenarnya dapat diminimalkan apabila proses penyimpanan dan pengolahan ikan dilakukan sesuai standar keamanan pangan. Salah satu cara yang efektif adalah memastikan ikan dimasak hingga mencapai suhu yang mampu membunuh larva parasit.

Selain melalui pemasakan, larva parasit juga dapat dimatikan dengan metode pembekuan ekstrem. Ia menyebutkan bahwa ikan dapat dibekukan pada suhu -20 derajat Celsius selama tujuh hari atau pada suhu -35 derajat Celsius selama 15 jam untuk ketebalan daging tertentu.

Menurutnya, restoran yang menyajikan menu berbahan ikan mentah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan seluruh prosedur keamanan pangan diterapkan secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, hingga penyajian kepada konsumen.

Karina juga mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan daya tahan tubuh rendah, untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan berbahan ikan mentah. Sebagai alternatif yang lebih aman, mereka disarankan memilih menu sushi atau hidangan laut yang telah melalui proses pemasakan.

Selain faktor pengolahan makanan, Karina menekankan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan untuk memutus rantai penyebaran parasit. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah pengelolaan limbah domestik, khususnya limbah feses, melalui sistem septic tank yang memenuhi standar kesehatan.

Menurutnya, sanitasi yang baik dapat mencegah telur parasit mencemari lingkungan perairan yang menjadi habitat berbagai jenis ikan konsumsi.

Melalui edukasi mengenai keamanan pangan dan peningkatan kesadaran masyarakat, risiko infeksi parasit akibat konsumsi ikan mentah diharapkan dapat ditekan sehingga masyarakat tetap dapat menikmati makanan laut dengan aman dan sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *