Berita

Dosen UM Indonesia Raih Silver Award di Ajang Inovasi Internasional Malaysia Lewat Model Parenting Berbasis Islamic Tarbiyah

Alvin Habib
41
×

Dosen UM Indonesia Raih Silver Award di Ajang Inovasi Internasional Malaysia Lewat Model Parenting Berbasis Islamic Tarbiyah

Sebarkan artikel ini
Silver Award pada ajang International Innovation ARSVOT Malaysia 2026 (IAM2026). Foto: UM Indonesia

ALIMANNEWS.COM, JAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia/UM.ID). Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Irnie Victorynie, S.Pd., M.Pd., Ph.D, berhasil meraih Silver Award pada ajang International Innovation ARSVOT Malaysia 2026 (IAM2026) melalui inovasi bertajuk Creative Murabbi Parenting Model (CMP).

Penghargaan tersebut diraih dalam kompetisi inovasi internasional yang diselenggarakan secara luring pada 25 Juli 2026 oleh Association for Researcher of Skills and Vocational Training (ARSVOT), Malaysia.

Irnie menjelaskan, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kolaborasi riset lintas negara yang berawal dari jejaring akademik yang dibangunnya saat menempuh pendidikan doktoral di International Islamic University Malaysia (IIUM). Meski telah menyelesaikan studi, komunikasi dengan para alumni yang kini menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi Malaysia terus terjalin hingga melahirkan kerja sama penelitian.

“Kami kemudian berdiskusi dan berkolaborasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ketika ada ajang International Innovation ARSVOT Malaysia, kami mencoba membawa hasil kolaborasi tersebut. Harapan kami bukan hanya meraih penghargaan, tetapi agar inovasi ini dapat dimanfaatkan seluas-luasnya,” ujar Irnie.

Creative Murabbi Parenting Model (CMP) merupakan model pendidikan dan pengasuhan yang dirancang tidak hanya bagi orang tua, tetapi juga bagi pendidik dan murabbi. Model tersebut lahir dari keprihatinan terhadap pendekatan parenting yang selama ini dinilai masih mengembangkan aspek spiritual, kognitif, dan kreativitas anak secara terpisah.

“Kami melihat bahwa selama ini aspek spiritual, kognitif, dan kreativitas sering dikembangkan secara terpisah. Melalui CMP, kami berupaya mengintegrasikan seluruh aspek tersebut dalam satu model sehingga perkembangan anak menjadi lebih utuh,” jelasnya.

CMP menggabungkan empat pendekatan utama, yakni Islamic Tarbiyah, Montessori Environment, Experiential Learning, dan Creative Thinking. Keempat pendekatan tersebut dipadukan dalam satu kerangka pembelajaran untuk membentuk generasi Creative Khalifah, yaitu individu yang beriman, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut Irnie, keunggulan utama atau novelty dari CMP terletak pada integrasi empat pendekatan tersebut dalam satu model yang sistematis. Selain itu, model ini disusun berdasarkan tiga fase perkembangan usia, yakni 0–7 tahun, 7–14 tahun, dan 14–21 tahun.

“Setiap fase memiliki fokus yang berbeda. Fase pertama menekankan discovery, fase kedua innovation, dan fase ketiga leadership. Dengan pembagian tersebut, target perkembangan anak pada setiap tahap usia menjadi lebih jelas dan terarah,” ungkapnya.

Dalam proses pengembangannya, tim peneliti menghadapi sejumlah tantangan, terutama karena melibatkan kolaborasi lintas negara. Perbedaan bahasa, sistem pendidikan, hingga sudut pandang menjadi dinamika yang harus diselaraskan. Namun, menurut Irnie, seluruh tim memiliki landasan yang sama, yakni nilai-nilai Islamic Tarbiyah sebagai fondasi utama pengembangan model.

Ajang International Innovation ARSVOT Malaysia (IAM2026) sendiri merupakan kompetisi inovasi tingkat internasional yang mempertemukan peneliti, dosen, mahasiswa, pendidik, serta inovator dari berbagai negara untuk mempresentasikan hasil penelitian maupun produk inovasi yang menawarkan solusi atas berbagai persoalan melalui pendekatan multidisiplin.

Bagi Irnie, penghargaan tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan pengembangan CMP. Ia berharap model tersebut terus dikembangkan melalui riset lanjutan agar dapat diimplementasikan secara lebih luas di dunia pendidikan.

“Kami berharap pencapaian ini tidak berhenti hanya sebagai kemenangan dalam sebuah kompetisi. Ke depan, kami ingin mengembangkan proyek-proyek lanjutan sehingga model ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan,” tuturnya.

Ia juga berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi sivitas akademika UM Indonesia untuk terus melahirkan inovasi yang berdampak nyata.

“Semoga pencapaian ini menjadi pemantik semangat untuk terus menggali ide-ide baru yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu memberikan solusi atas berbagai tantangan di dunia pendidikan, memberikan manfaat bagi UM Indonesia, Indonesia, bahkan masyarakat global,” pungkasnya.

Keberhasilan tersebut memperkuat kiprah dosen UM Indonesia di tingkat internasional sekaligus menjadi bukti komitmen perguruan tinggi dalam mendorong lahirnya inovasi yang relevan, berdaya saing, dan berkontribusi bagi kemajuan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *