Berita

Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Umat, Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid

Alvin Habib
52
×

Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Umat, Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid

Sebarkan artikel ini
Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Foto: Humas_Kemenag)

ALIMANNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjalankan fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. Menurutnya, masjid perlu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan sosial, kemanusiaan, hingga pembangunan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Al Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026), yang dihadiri sekitar 20.000 jamaah.

“Bukan umat yang memberdayakan masjid, tapi masjid yang memberdayakan umat,” ujar Nasaruddin.

Menurut Menag, transformasi fungsi masjid telah mulai diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan ribuan masjid sebagai posko pelayanan masyarakat selama arus mudik.

“Mari kita fungsikan masjid-masjid di Indonesia sebagai contoh. Sekarang masjid memiliki fungsi baru yaitu posko mudik, sekitar 6.000 masjid menjadi posko mudik,” katanya.

Ia menilai, perluasan fungsi tersebut sejalan dengan praktik yang dicontohkan pada masa Rasulullah SAW. Saat itu, kata dia, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

“Kita lihat masjidnya Rasulullah berfungsi sebagai sekretariat negara. Semua persoalan-persoalan pemerintahan diselesaikan di masjid. Jadi masjid itu adalah rumah besar untuk kemanusiaan,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Nasaruddin menilai peran imam masjid menjadi semakin strategis. Imam tidak hanya bertugas memimpin ibadah, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan fungsi sosial masjid sebagai pusat pelayanan masyarakat, pemberdayaan umat, serta penyebaran nilai-nilai perdamaian.

Menurutnya, semangat itulah yang menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada September mendatang.

“Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia,” tegasnya.

Konferensi internasional tersebut ditargetkan menghadirkan sekitar 400 imam besar dari berbagai negara. Forum itu diharapkan menjadi wadah memperkuat jejaring internasional serta pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan masjid dan penguatan peran imam di tingkat global.

Menag menyebut sejumlah tokoh agama internasional diupayakan hadir dalam konferensi tersebut, di antaranya Imam Masjidil Haram Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais, Grand Sheikh Al-Azhar, serta para imam dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lainnya.

“Dan akan hadir sekitar 400 imam-imam besar dunia, termasuk kita usahakan insyaallah Sheikh Sudais akan datang, kemudian juga imam besar yang lain termasuk Grand Sheikh Al-Azhar kita juga undang. Dari Amerika, dari Eropa, dari Jepang, Korea, semua imam-imam besar pada negara-negara terutama negara-negara besar itu akan datang secara simbolik di Indonesia,” pungkas Nasaruddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *