Islam Insight

Cinta Nabi, Cinta kepada Syariat Nabi

alnews_online
249
×

Cinta Nabi, Cinta kepada Syariat Nabi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh: Tutus Riyanti

ALIMANNEWS.COM, ISLAM INSIGHT — Setiap bulan Rabiul Awal, umat Islam memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW. Berbagai acara Maulid Nabi dilaksanakan di masjid, sekolah, perkantoran, bahkan ramai dibahas dan dishare di media sosial. Puasa sunnah pun digencarkan memasuki bulan kelahiran Nabi SAW. Bacaan shalawat berkumandang dimana-mana. Perasaan cinta kaum muslim kepada Nabi-nya begitu menggelora.

Pertanyaannya, apakah perasaan cinta kepada Nabi Muhammad SAW hanya sebatas acara-acara seremonial, hanya sebatas membaca shalawat, hanya sebatas puasa sunnah, hanya sebatas rasa kagum dan bangga kepada Nabi Muhammad SAW, apakah hanya sebatas hal-hal seperti itu saja?

Cinta Butuh Bukti

Cinta kepada orang tua, suami, istri, anak, keluarga, sahabat, itu semuanya membutuhkan bukti konkret. Apalagi ini cinta kepada Nabi Muhammad SAW, seorang manusia pilihan, kekasih Allah, rasul (utusan) Allah, tentulah membutuhkan bukti yang lebih konkret lagi.

Kalau cinta kepada Nabi hanya sekedar kagum atau bangga, maka orang kafir pun bisa melakukannya. Adalah Michael H. Hart merupakan seorang ahli sejarah sekaligus penulis buku tersohor dari Amerika Serikat, yang pernah bekerja sebagai guru besar Astronomi dan Fisika di Universitas Maryland AS. Michael H. Hart menulis buku yang fenomenal dan paling kontroversial sepanjang sejarah, dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa yaitu: “The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History” . Dalam bukunya, Hart menempatkan di urutan pertama tokoh yang paling berpengaruh di dunia adalah Nabi Muhammad SAW, sosok yang sangat dimuliakan oleh umat Islam. Hart mengakui dan kagum pada sosok Nabi Muhammad SAW, padahal dia beragama Nasrani.

Lalu bagaimana seorang muslim yang mengaku mencintai Nabi Muhammad SAW, harus mengimplementasikan perasaan cintanya? Tentu tidak hanya sekedar perasaan kagum dan bangga saja seperti yang dilakukan Michael H. Hart, tapi harus memberikan bukti akan perasaan cintanya, sebagai berikut:

  1. Mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi apapun di dunia.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS.at-Taubah 24)

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Membenarkan berita apapun yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginan hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS.an-Najm 3-4)

  1. Mengikuti dan meneladani sosok Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman, “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS.al-Ahzab 21)

Cinta Kepada Syariat Nabi

Cinta kepada Nabi Muhammad SAW bermakna mencintai apa yang dibawa oleh Nabi SAW, yakni syariat Islam. Cinta kepada Nabi SAW berarti menjalankan seluruh syariat Islam, tidak pilih-pilih mengikuti sebagian dan meninggalkan sebagian. Cinta kepada Nabi SAW berarti menjalankan syariat Islam secara kaffah (keseluruhan).

Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS.al-Baqarah 208)

Islam yang kaffah (keseluruhan) mengatur hubungan manusia dengan Allah (aqidah dan ibadah), mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (pakaian, makanan, akhlaq), dan mengatur hubungan manusia dengan manusia lain (muamalah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sistem sanksi, politik dan pemerintahan).

Pengaturan Islam seperti ini pernah diterapkan Nabi SAW ketika beliau memimpin negara di Madinah. Pada saat itu, seluruh alam bisa merasakan kerahmatan Islam. Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS.al-anbiya 107)

Saatnya Kembali Kepada Islam Kaffah

Hari ini umat berada dalam kondisi tidak baik-baik saja. Berbagai problematika besar melanda umat. Kemiskinan melanda, padahal sumber kekayaan alam sangat melimpah. Harga kebutuhan pokok melambung, kesehatan mahal, pendidikan mahal. Degradasi moral mengancam generasi. Korupsi, kejahatan dan kriminalitas semakin merajalela, hukum tidak tegas dan menjerakan. Hukum hanya berpihak kepada orang kuat, sedang orang lemah senantiasa mendapat ketidakadilan.

Ini adalah fakta problematika umat akibat diterapkannya sistem Kapitalisme, dimana asasnya adalah sekularisme yakni memisahkan agama dari kehidupan, bahkan memisahkan agama dari negara. Yang diterapkan ditengah kita saat ini bukan hukum buatan Allah SWT, tapi hukum buatan manusia yang lemah dan terbatas. Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS.ar-Rum 41)

Andai diterapkan syariat Islam kaffah seperti yang dibawa oleh Nabi SAW, pastilah problematika umat tidak akan terjadi. Jika pun terjadi, pasti jumlahnya tidak sebanyak dan sedasyat hari ini. Allah SWT berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.al-Araf 96)

Oleh karenanya, sebagai seorang muslim yang taat dan mencintai Nabi Muhammad SAW, sudah saatnya kita kembali kepada penerapan syariat Islam kaffah dalam segala aspek kehidupan, baik dalam lingkup individu, masyarakat, dan bernegara. Wallahua’lam bi ashshawab.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *