Scroll untuk baca artikel
Berita

Haedar Nashir: Pemimpin Muhammadiyah Harus Tinggalkan Kepentingan Pribadi

alnews_online
174
×

Haedar Nashir: Pemimpin Muhammadiyah Harus Tinggalkan Kepentingan Pribadi

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Ist)

ALIMANNEWS.COM, BANDUNG — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan setiap pemimpin di lingkungan Persyarikatan agar menanggalkan kepentingan pribadi dalam menjalankan amanah organisasi. Pesan tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri Milad ke-10 Universitas Muhammadiyah Bandung, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Haedar, kepemimpinan di Muhammadiyah harus dibangun atas dasar keikhlasan, keteladanan, dan orientasi untuk kepentingan umat, bukan demi kepentingan individu maupun kelompok tertentu.

“Siapa pun yang diberi amanah kepemimpinan, terutama di Muhammadiyah, harus menutup segala kepentingan pribadi,” tegas Haedar.

Ia menilai, pemimpin juga dituntut memiliki kecerdasan dalam menyikapi dinamika informasi dan isu yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk di media sosial. Tidak semua persoalan, kata dia, perlu direspons secara berlebihan, namun tidak semuanya pula harus diabaikan.

Dalam kesempatan itu, Haedar mengutip pepatah Melayu sebagai pesan moral bagi para kader dan pemimpin Muhammadiyah.

“Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu ribut sekampung. Jadilah penyu di pantai, telur beratus namun tak bangga,” ujarnya.

Menurutnya, pepatah tersebut mencerminkan sikap tawassuth atau moderasi, yakni mampu menempatkan diri secara bijak, tidak berlebihan dalam menunjukkan pencapaian, namun tetap memberikan kontribusi nyata bagi organisasi dan masyarakat.

Haedar juga menekankan pentingnya spiritualitas dalam menjalankan amanah di Persyarikatan. Ia menyebut hubungan antarkader tidak cukup hanya dibangun melalui komunikasi formal atau lisan, tetapi juga melalui ketulusan hati dan keikhlasan.

“Serumit apa pun hubungan dengan orang, ketika yang bicara adalah hati dan rasa, biasanya akan nyambung,” katanya.

Selain itu, Haedar mengingatkan agar setiap kebaikan yang dilakukan tidak perlu diumbar demi mencari pujian atau pengakuan. Menurutnya, setiap amal baik akan tercatat dan pada waktunya diketahui secara alami oleh masyarakat.

“Maka tidak usah mengumum-umumkan. Tuhan mencatat, semesta mendaftar, dan akhirnya orang tahu juga secara alami,” ungkapnya.

Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa pengkhianatan terhadap amanah dan perbuatan buruk pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Haedar mengaitkan hal tersebut dengan pesan moral dalam Surah Al-Isra ayat 7.

Ia juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menjaga kesucian diri, ketakwaan, serta menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun, moderat, dan penuh hikmah.

“Jangan sampai kebenaran disampaikan dengan cara yang buruk. Kita harus menjaga ketakwaan, tetapi tidak merasa paling suci,” tandasnya.

 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *