Berita

UIN Jakarta Siap Jadi PTN-BH dan Perkuat Kemandirian Kampus

alnews_online
76
×

UIN Jakarta Siap Jadi PTN-BH dan Perkuat Kemandirian Kampus

Sebarkan artikel ini
Kampus UIN Jakarta. (Foto: Ist)

ALIMANNEWS.COM | TANGERANG SELATAN – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta terus mematangkan langkah menuju status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Transformasi tersebut ditopang oleh penguatan kemandirian finansial melalui pengelolaan aset dan unit bisnis kampus yang dikelola secara profesional oleh Pusat Pengembangan Bisnis (P2B).

Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, mengatakan proses perubahan status dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi PTN-BH saat ini masih berlangsung dan tengah memasuki tahap pembahasan lintas kementerian.

Pernyataan tersebut disampaikan di sela The 15th Annual General Meeting of the Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di Kampus UIN Jakarta, Tangerang Selatan, Selasa (24/6/2026).

“(Penetapan PTNBH) sedang diproses. Mudah-mudahan tahun ini jadilah,” ujar Asep.

Menurutnya, usulan perubahan status telah diajukan beberapa waktu lalu dan kini sedang dikaji bersama Kementerian Keuangan, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), serta sejumlah instansi terkait lainnya.

Asep menegaskan UIN Jakarta telah memenuhi berbagai persyaratan utama untuk menjadi PTN-BH, mulai dari kualitas sumber daya manusia, aset, tata kelola keuangan, hingga kapasitas akademik.

“UIN Jakarta sudah memadai dalam konteks SDM, aset, keuangan, dan keilmuan,” katanya.

Salah satu pilar utama menuju PTN-BH adalah keberhasilan Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) dalam mengelola aset dan unit usaha kampus secara profesional sejak 2015.

Kepala P2B UIN Jakarta, Prof. Asep Syarifuddin Hidayat, mengungkapkan berdasarkan data yang telah disampaikan kepada Kementerian Agama, total estimasi pendapatan bruto unit bisnis kampus telah melampaui Rp200 miliar, dengan surplus sekitar Rp20 miliar.

Berbagai unit usaha yang dikelola P2B meliputi Food Court UIN Jakarta, deretan ruko komersial yang ditempati Bank Mandiri, Bank BTN, FamilyMart, Janji Jiwa, Rumah Sakit UIN Jakarta, Adia Suite, Syahida Inn, hingga Adia Convention Center.

Selain itu, P2B juga mengelola berbagai layanan penunjang kampus seperti katering, layanan tiket perjalanan, pemeliharaan pendingin ruangan (AC), bengkel kendaraan dinas, hingga pengadaan alat tulis kantor (ATK).

Prof. Asep Syarifuddin juga mengungkapkan UIN Jakarta memiliki lahan seluas sekitar 42 hektare di kawasan Cikuya yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan peternakan terpadu untuk mendukung kebutuhan pangan rumah sakit dan hotel milik kampus.

Tidak hanya berorientasi pada pendapatan, P2B juga membuka ruang pemberdayaan mahasiswa melalui berbagai program kewirausahaan.

Di antaranya adalah penyediaan panggung Live Music di Food Court Masjid Fathullah sebagai ruang kreativitas mahasiswa, serta pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) In Campus.

Pengelolaan seluruh unit usaha dilakukan melalui berbagai skema bisnis, seperti sistem bagi hasil, sewa, hingga Build Operate Transfer (BOT).

Kontribusi P2B terhadap pendapatan universitas disebut mencapai sedikitnya 10 persen dari total penerimaan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Sementara itu, Gedung Harun Nasution juga dapat dimanfaatkan masyarakat melalui sistem penyewaan dengan tarif yang dibedakan antara sivitas akademika dan pihak eksternal.

Rektor Asep memastikan perubahan status menjadi PTN-BH tidak akan berdampak pada kenaikan biaya pendidikan mahasiswa.

Menurutnya, besaran UKT tetap mengacu pada regulasi pemerintah, sedangkan status PTN-BH bertujuan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada perguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan, riset, inovasi, serta tata kelola kelembagaan.

“Kami siap menjadi milestone Kementerian Agama untuk mempunyai kampus PTNBH,” tegasnya.

Ia menambahkan, kemandirian finansial menjadi faktor penting agar perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun uang kuliah mahasiswa dalam membiayai operasional kampus.

Dalam forum AIUA tersebut, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), hadir sebagai pembicara utama.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar (pakai jas) bersama Jusuf Kalla di Tangerang Selatan, Banten (24/6). (Dok. UIN Jakarta)

JK menekankan bahwa perguruan tinggi Islam harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan agar mampu meningkatkan daya saing umat Islam di tingkat global.

Sebagai contoh, JK menyinggung keberhasilan Iran dalam membangun kemampuan teknologi pertahanan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan budaya riset.

“Kunci dari Iran adalah penguasaan teknologi dan budaya,” ujar JK.

Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk pengembangan drone dan rudal, menunjukkan pentingnya investasi pada riset dan inovasi sebagai fondasi kemandirian suatu bangsa.

Melalui transformasi menuju PTN-BH, UIN Jakarta berharap mampu memperkuat tata kelola perguruan tinggi yang lebih mandiri, inovatif, dan kompetitif, sekaligus menjadi model pengembangan kampus Islam modern di bawah naungan Kementerian Agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *