Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

Gus Baha: Peneliti Al-Qur’an Wajib Kuasai Sejarah agar Tafsir Tidak Keluar dari Makna Aslinya

alnews_online
41
×

Gus Baha: Peneliti Al-Qur’an Wajib Kuasai Sejarah agar Tafsir Tidak Keluar dari Makna Aslinya

Sebarkan artikel ini
ais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). (Foto: Ist)

ALIMANNEWS.COM, YOGYAKARTA — Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ahmad Bahauddin Nursalim, menegaskan pentingnya pemahaman sejarah atau tarikh bagi para peneliti Al-Qur’an dan mufassir. Menurutnya, penguasaan konteks sejarah menjadi kunci agar penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an tetap utuh, tepat, dan tidak keluar dari makna yang sebenarnya.

Pesan tersebut disampaikan Gus Baha saat menghadiri kegiatan Ngaji Bareng di Universitas Islam Indonesia, sebagaimana dikutip pada Jumat (29/5/2026).

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA itu, banyak ayat Al-Qur’an yang tidak dapat dipahami secara utuh tanpa mengetahui latar belakang sejarah turunnya ayat maupun konteks sosial yang melingkupinya.

Sebagai contoh, Gus Baha mengulas Surat Ali Imran ayat 97 yang menyebut keberadaan Maqam Ibrahim sebagai salah satu tanda yang nyata.

Ayat tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari argumentasi Al-Qur’an untuk menjawab keraguan sebagian kalangan Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW yang mempertanyakan nasab dan kenabian beliau.

Kala itu, sebagian orang Yahudi sulit menerima bahwa seorang nabi dapat lahir dari bangsa Arab yang dikenal tidak memiliki tradisi literasi dan dianggap jauh dari pusat peradaban besar dunia.

“Orang Arab saat itu dipandang sebagai bangsa yang tidak memiliki tradisi membaca. Karena itu mereka mempertanyakan bagaimana mungkin seorang nabi lahir dari kalangan Arab,” ujar Gus Baha.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an kemudian menghadirkan bukti historis tentang hubungan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim AS melalui jalur keturunan Nabi Ismail AS. Salah satu bukti yang disebutkan adalah keberadaan Maqam Ibrahim di Makkah yang menjadi jejak sejarah keberadaan Nabi Ibrahim di kawasan tersebut.

Menurut Gus Baha, istilah Maqam Ibrahim dalam ayat tersebut bukan berarti makam atau kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dipahami dalam bahasa Indonesia, melainkan tempat atau jejak yang berkaitan dengan keberadaan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS.

“Bukti bahwa Nabi Ibrahim pernah berada di Makkah adalah adanya Maqam Ibrahim. Itu menjadi salah satu argumentasi Al-Qur’an ketika menjawab keraguan terhadap hubungan nasab Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim,” jelasnya.

Gus Baha juga mengaitkan penjelasan tersebut dengan Surat Ibrahim ayat 37 yang mengisahkan doa Nabi Ibrahim saat meninggalkan Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail, di lembah tandus Makkah.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi bukti lain yang menunjukkan bahwa Nabi Ismail memang pernah tinggal di Makkah, sehingga memperkuat silsilah kenabian yang berujung kepada Nabi Muhammad SAW.

“Nah, ayat seperti itu kalau tidak membaca sejarah, orang tidak akan memahami bahwa Allah sedang menjelaskan dan menguatkan bahwa Muhammad benar-benar keturunan para nabi,” terangnya.

Selain pentingnya memahami sejarah, Gus Baha juga mengingatkan para peneliti Al-Qur’an untuk memperhatikan sisi basyariyah atau aspek kemanusiaan para nabi yang banyak diceritakan dalam Al-Qur’an.

Menurutnya, kisah-kisah para nabi tidak hanya berisi mukjizat dan ajaran spiritual, tetapi juga menggambarkan dinamika kehidupan manusia yang nyata, termasuk persoalan keluarga, ekonomi, dan perjuangan hidup sehari-hari.

Sebagai contoh, ia mengulas kisah Nabi Ibrahim AS ketika meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah Makkah atas perintah Allah SWT. Dalam kisah tersebut, Siti Hajar mempertanyakan bagaimana mereka dapat bertahan hidup di wilayah yang tidak memiliki sumber makanan dan air yang memadai.

Bagi Gus Baha, kisah tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dan kebutuhan hidup merupakan bagian dari realitas manusia yang juga dialami para nabi.

Ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai kebutuhan hidup, rezeki, dan ekonomi tidak mengurangi kesakralan kenabian. Justru aspek tersebut memperlihatkan bagaimana para nabi menghadapi persoalan kemanusiaan dengan penuh keimanan dan tawakal kepada Allah SWT.

“Karena itu saya berharap para peneliti tafsir dan peneliti Al-Qur’an memiliki konstruksi keilmuan yang utuh. Dengan begitu, ayat yang tampak biasa bisa dipahami menjadi sangat luar biasa. Persoalan rezeki dan ekonomi adalah bagian dari kehidupan manusia dan tidak mengurangi kesakralan nubuwah,” pungkas Gus Baha.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *