Scroll untuk baca artikel
Berita

Presiden Jerman Kagum Lihat Kerukunan Istiqlal dan Katedral Jakarta

22
×

Presiden Jerman Kagum Lihat Kerukunan Istiqlal dan Katedral Jakarta

Sebarkan artikel ini
Menteri Agama Nasaruddin Umar (kanan), bersama dengan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier (tengah) dan Ibu Negara Elke Büdenbender (kiri) di Istiqlal, Jakarta. Senin, (15/6/2026). (Foto: HMSKemenag)

ALIMANNEWS.COM – JAKARTA – Indonesia kembali menunjukkan praktik nyata kerukunan antarumat beragama kepada dunia internasional. Dalam kunjungan kenegaraannya ke Jakarta, Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier bersama Ibu Negara Elke Büdenbender menyaksikan langsung simbol toleransi dan persaudaraan lintas agama yang terwujud melalui Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan keduanya.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah Presiden Steinmeier menyelesaikan agenda kenegaraan di Istana Kepresidenan, Senin (15/6/2026). Kedatangan tamu negara itu disambut Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, bersama Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo.

Di Masjid Istiqlal, yang merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara, Presiden Jerman berkesempatan melihat berbagai fasilitas utama masjid, termasuk ruang ibadah dan mimbar utama. Steinmeier juga mencoba memukul bedug, salah satu simbol tradisi Islam yang khas di Indonesia.

Dari Istiqlal, Presiden Steinmeier dan istrinya melanjutkan perjalanan menuju Gereja Katedral Jakarta melalui Terowongan Silaturahmi, sebuah jalur penghubung yang dibangun sebagai simbol persaudaraan dan dialog antarumat beragama. Di Katedral, keduanya mendapatkan penjelasan mengenai sejarah, fungsi, serta filosofi hubungan harmonis yang telah lama terjalin antara dua rumah ibadah tersebut.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Presiden Jerman dan Ibu Negara menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap model kerukunan yang dibangun Indonesia melalui kawasan Istiqlal-Katedral.

“Setelah dari Istana langsung berkunjung ke Istiqlal, kemudian menelusuri Terowongan Silaturahmi hingga masuk ke Katedral. Mereka sangat terharu melihat sebuah kota yang sangat ideal, ada dua rumah ibadah yang sangat bersahabat yang ditandai dengan adanya terowongan yang menghubungkan keduanya,” ujar Nasaruddin Umar.

Menurut Menag, pengalaman melintasi Terowongan Silaturahmi memberikan kesan mendalam bagi Presiden Steinmeier dan istrinya. Mereka merasakan perpaduan simbolik antara dua tradisi keagamaan yang hidup berdampingan secara harmonis.

“Di tengah-tengah terowongan ada kombinasi suara lonceng gereja dan suara bedug. Ditambah ornamen-ornamen silaturahmi yang sangat indah. Itu yang membuat mereka sangat terkesan,” katanya.

Nasaruddin menilai kawasan Istiqlal-Katedral merupakan representasi nyata wajah Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi. Menurutnya, pemandangan dua rumah ibadah besar yang berdiri berdampingan dengan penuh persaudaraan merupakan fenomena yang tidak mudah ditemukan di banyak negara.

“Mereka sangat puas menyaksikan sebuah pemandangan yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Itulah kesan yang kami tangkap dari kunjungan tadi,” tambahnya.

Sementara itu, Kardinal Ignatius Suharyo menjelaskan bahwa kedekatan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan hanya persoalan geografis, tetapi juga memiliki makna historis dan kebangsaan yang mendalam. Hubungan harmonis tersebut, kata dia, merupakan warisan para pendiri bangsa yang ingin menjadikan keberagaman sebagai fondasi persatuan Indonesia.

Menurut Kardinal Suharyo, Presiden pertama RI Soekarno secara khusus memilih lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di kawasan tersebut sebagai simbol kehidupan bersama dalam keberagaman. Keputusan itu juga menjadi bagian dari upaya menghapus simbol kolonialisme dan menggantikannya dengan simbol persatuan nasional.

“Relasi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral terus dibangun sebagai lambang bahwa kita hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia. Karena itu, setiap kali ada tamu negara, mereka diajak melihat langsung simbol ideal bangsa Indonesia untuk hidup bersama dalam perbedaan,” tuturnya.

Kunjungan Presiden Jerman ke kawasan Istiqlal-Katedral menjadi pesan kuat bahwa Indonesia tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah berbagai tantangan global terkait hubungan antaragama dan konflik identitas, Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi sumber persatuan, kekuatan, dan modal sosial bagi pembangunan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *